CINTA TANAH AIR

Cinta tanah air merupakan syarat utama bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup suatu Negara. Setiap warganegara mutlak mencintai tanah airnya.Seperti cerita dari para pejuang kita sewaktu melawan para penjajah demi merdekanya Indonesia, seperti Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, K. H. Ahmad Dahlan, K. H. Agus Salim, dll.
Semua itu lahir berdasarkan kesadaran pentingnya cinta tanah air. Sikap melawan penjajah dan memerangi penindasan, mempertahankan harga diri dan hak milik.
Sebagai umat Islam yang mempunyai aqidah serta persaudaraan yang kuat juga harus mempunyai rasa cinta tanah air. Seperti cerita sahabat nabi, Bilal yang telah mengorbankan segalanya demi aqidahnya, adalah juga Bilal yang suatu ketika di negeri Hijrah menyenandungkan bait-bait puisi kerinduan yang tulus terhadap tanah asalnya, Mekah. O, angan, masihkah mungkin ‘kan kulalui malam, pada lembah dan ada Akhir mengitariku, juga Jalil. Masihkah mungkin kutandan gemercik air Mijannah. Atau Syamah menampak bagiku, jugaThafii.
Pernah suatu ketika Rasulullah saw. mendengarkan untaian sajak tentang Mekah dari Ashil, dan tiba-tiba saja butir-butir air mata beliau bercucuran di celah pipinya. Kerinduan kepada Mekah tampak jelas di permukaan wajahnya. Kemudian beliau saw. berucap, “Wahai Ashil biarkan hati ini tenteram. ”
Di dunia Islam, Jamaluddin Al Afghani adalah sosok pemikir dan penggerak awal kesadaran cinta tanah air dan perlawanan terhadap penjajahan. Para ulama juga telah menyadari benar akan pentingnya cinta tanah air ini, kesadaran akan cinta tanah air ini muncul sebagai akibat penjajahan barat atas dunia Islam. Maka untuk membangkitkan kesadaran menyeluruh di masyarakat muslim, ara ulamapun meneguhkan motto hubbul waton minal iman.
Indonesia telah lama merdeka, apakah kita apatis saja terhadap Negara ini? Konteks melawan penjajah di sini, tidak hanya penjajah dalam bentuk yang konkret saja, tetapi secara abstrak. Seperti faktanya, seiring dengan upaya dan rekayasa licik Barat mencerai-beraikan berbagai negara di dunia dengan gerakan mereka. Kondisi ini dengan sendirinya membuat umat menjadi lemah dan ringkih sehingga mudah untuk dikendalikan dan dijajah oleh negara-negara kafir imperialis. Penjajahan yang dulu dilakukan secara langsung dengan pendudukan militer, kini telah bersalin rupa menjadi penjajahan gaya baru yang lebih halus dan canggih. Di bidang ekonomi, Barat menerapkan pemberian utang luar negeri, privatisasi, globalisasi, pengembangan pasar modal, dan sebagainya. Di bidang budaya, Barat mengekspor ide-ide kebebasan melalui film, lagu, novel, radio, musik, internet,?آ dan lain-lain seperti dalam hal politik. Bentuk-bentuk penjajahan gaya baru ini dapat berlangsung, karena kondisi umat yang terpecah-belah tadi.
Cinta tanah air pada umumnya mengandung banyak makna, pertama, keharusan berjuang membebaskan tanah air dari cengkeraman imperialisme, menanamkan makna kehormatan dan kebebasan dalam jiwa putra-putra bangsa. Islam telah menegaskan perintah itu dengan setegas-tegasnya. Lihatlah firman Allah Taala,

141. (yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu ?” dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu[363], dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi Keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. (Annisa:141)

Kedua, cinta tanah air berarti memperkuat ikatan kekeluargaan antara anggota masyarakat atau warga negara serta menunjukkan kepada mereka cara-cara memanfaatkan ikatan itu untuk mencapai kepentingan bersama yaitu membela tanah air dari para penjajah. Memerangi segala penindasan. Bukan malah membelot menghancurkan persaudaraan itu sendiri. Seperti firman Allah SWT:


200. Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (Ali Imran : 200)
193. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu Hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (Al Baqarah : 193)

14. Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka Mengetahui. (Al Mujadilah :14)

Lihatlah bagaimana Rasulullah saw. bersabda, “Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.”

Dengan demikian, kita harus menunujukkan rasa cinta tanah air kita dengan segala sikap positif. Jika seluruh warga berbuat demikian, maka Negara akan memiliki harkat dan martabat yang terhormat di tengah warga dunia. Kerjakanlah kewajiban kita sebagai sesama umat muslim yang saling tolong menolong, sebagai warga Negara yang baik, dan sebagai pemimpin yang amanah, sebagai umat yang mengikuti pemimpinnya. Tujuannya, tidak lain untuk menciptakan baldatun toyyibatun warabbun ghafur dengan cinta tanah air itu sendiri. Allah SWT berfirman:
11. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan dii belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.


58. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.
59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Maka, kita sebagai generasi penerus bangsa haruslah memiliki aqidah yang teguh, akhlak yang baik serta ilmu dan pengetahuan yang luas. Jangan ketinggalan seiring berjalannya waktu, dan tetaplah istiqomah di jalan Allah SWT untuk membela kebenaran dan keadilan.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s