Obesitas Pada Anak

Okei kawan semuanya… sering donk kita ngeliat anak kecil ‘ndut dan lucu… wah bawaannya gemess yah pasti..hahah… belum lagi pipinya yg gembull kyk pengen mnta dicubit ^_^

Seringkali banyak orangtua menginginkan anaknya tumbuh dengan sehat, gemuk dan terlihat lucu. Sekilas anak yang gemuk memang terlihat lucu dan menggemaskan, bahkan ada ungkapan jikalau anak gemuk berarti sehat. Tak heran jika banyak produk kesehatan ataupun makanan untuk anak atau balita lebih menekankan pada upaya menambah berat.

Pola pemahaman seperti itu mungkin tidak berlaku, karena anak gemuk mempunyai faktor risiko bagi kesehatan. Indikator kesehatan bagi anak atau balita juga tidak hanya ditentukan melalui berat badan. Berat badan yang berlebih biasa disebut dengan obesitas, obesitas dikhawatirkan memberikan dampak yang kurang baik bagi kesehatan anak.

Pengertian Obesitas

Obesitas atau kegemukan yang berlebih dimaknai berbeda bagi setiap orang. Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan berdasarkan beberapa pengkuran tertentu. Obesitas pada anak adalah kondisi medis pada anak yang ditandai dengan barat badan di atas rata-rata dari indeks massa tubuhnya (Body Mass Index) yang di atas normal. Indeks Massa Tubuh (IMT) dihitung dengan cara mengalikan berat badan anak kemudian dibagi dengan kuadrat dari besar tinggi anak. Jika seorang anak memiliki IMT di atas 25 kg/m2,maka anak tersebut menderita obesitas.

Obesitas pada anak dapat dinilai dari beberapa kriteria selain IMT. Terkadang seseorang anak terlihat gemuk, namun belum tentu disebut obesitas. Beberapa metode dan teknik diagnosis dapat dilakukan untuk menilai apakah anak gemuk sudah memasuki tahap obesitas atau hanya over weight.

Penyebab Obesitas

Tubuh menjadi gemuk karena energi yang masuk berbentuk kalori dalam makanan lebih banyak daripada yang dikeluarkan dalam bentuk aktivitas. Anak sehat yang dibiarkan makan menurut seleranya terkadang tidak mengalami pengontrolan dalam pola makan. Anak bisa menjadi tampak lebih berat apabila suka mengemil. Hal ini dapat menjadi masalah makan berlebihan di kemudian hari.

Anak yang memiliki masalah dengan berat badan disebabkan oleh beberapa faktor obesitas. Faktor obesitas ialah faktor yang menjadi penentu atau faktor risiko bagi seorang anak untuk bisa terkena obesitas. Semua anak yang nafsu makannya lebih banyak ternyata tidak semua menjadi gemuk dan mengalami obesitas. Masing-masing anak mengalami sistem metabolisme yang berbeda satu sama lain. Anak yang memiliki kecepatan metabolisme lebih lambat memiliki risiko lebih besar menderita obesitas.

Obesitas cenderung dipengaruhi oleh turunan dari keluarga. Apabila ada orangtua yang obesitas dalam keluarga, maka kemungkinan anaknya juga akan menderita obesitas. Namun, tidak sedikit dari ahli kesehatan menilai bahwa faktor genetik bukanlah penentu dominan dalam obesitas pada anak. Obesitas pada anak juga ditentukan oleh faktor risiko lainnya.

Pola aktivitas yang dilakukan oleh seorang anak juga dapat mempengaruhi seorang anak terkena obesitas. Pola aktivitas yang minim akan meningkatkan risiko kegemukan dan obesitas pada anak. Kebiasaan anak pada zaman sekarang lebih menyukai beraktivitas di dalam rumah seperti menonton televisi daripada bermain di luar rumah seperti bermain bola atau gobak sodor dengan teman sebayanya yang lebih menguras energi. Dalam jangka waktu yang panjang kebiasaan anak yang minim gerak ini akan berdampak buruk bagi kesehatannya karena berpotensi menimbulkan kegemukan dan obesitas.

Selain faktor turunan dan pola aktivitas, pola makan juga berperan dalam peningkatan risiko terjadinya obesitas pada anak. Saat ini, pola makan anak-anak lebih sering mengkonsumsi makanan cepat saji. Makanan cepat saji pada umumnya memiliki kadar kalori yang sangat tinggi, rendah serat dan kandungan gizi.

Pola asuh orang tua kepada anak juga akan mempengaruhi anak risiko pada anak. Kebiasaan orangtua yang membiarkan anaknya lebih sering bermain di dalam rumah daripada beraktivitas di luar rumah dan bermain dengan teman sebayanya akan mempengaruhi faktor risiko obesitas pada anak. Para orangtua berperan penting dalam membentuk kebiasaan dan pola makan anak-anak mereka. Anak sering kali bersikap pasif dan hanya mengkonsumsi makanan yang disediakan oleh orangtuanya.

Dampak Obesitas

Obesitas pada anak akan menimbulkan berbagai keluhan dan gangguan penyakit. Pada umumnya, gangguan kesehatan yang terjadi pada anak obesitas ialah gangguan secara klinis, mental dan sosial. Anak yang terlalu gemuk kakinya tidak dapat menahan berat badan, akan lebih lambat duduk, bergerak dan berjalan dibanding anak yang kurus, bahkan cenderung mengganggu pernapasan.

Terdapat banyak gangguan klinis yang ditimbulkan akibat obesitas pada anak di antaranya kencing manis (diabetes mellitus tipe II), asma bronkhiale, hipertensi, sleep apnea dan gangguan tulang sendi. Gangguan klinis akibat obesitas akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.

Kencing manis yang juga disebut dengan diabetes mellitus tipe II pada anak obesitas merupakan hal yang sangat mengkhawatirkan. Anak-anak penderita diabetes mellitus tipe II berisiko tinggi menderita berbagai penyakit komplikasi seperti gagal ginjal kronis, penyakit jantung bahkan stroke dini. Anak penderita diabetes mellitus tipe II memiliki produksi insulin yang terganggu. Kebiasaan yang buruk pada pola makan anak obesitas dapat meningkatkan terjadinya penyakit kencing manis pada anak.

Asma bronkhiale merupakan kelainan sistem pernapasan yang ditandai dengan penyempitan pada saluran napas dan bersifat sementara serta dapat semuh secara spontan tanpa pengobatan. Anak obesitas yang memiliki pola aktivitas yang rendah akan berisiko terkena asma bronkhiale.

Hipertensi dapat disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya obesitas. Anak obesitas yang menderita hipertensi akan mengalami berbagai penyakit komplikasi lainnya dan kerusakan organ seperti gangguan fungsi mata, jantung, dan kelainan fungsi otak.

Sleep apnea adalah gangguan pernapasan ketika tidur. Sleep apnea pada anak ditandai dengan terhentinya napas sekitar sepuluh detik ketika tidur. Anak yang obesitas mengalami penumpukan lemak yang berlebihan di dalam tubuhnya. Penumpukan lemak yang berlebihan akan mengganggu darah dalam mengedarkan oksigen ketika proses oksidasi dan metabolisme berlangsung.

Obesitas pada anak berpotensi menimbulkan kelainan bentuk dan ukuran tulang, ketidakseimbangan, maupun rasa nyeri yang sangat kuat ketika berdiri, berjalan, maupun berlari. Obesitas anak dapat memberikan tekanan dan regangan yang lebih besar terutama pada tulang kaki daripada anak dengan berat normal. Oleh karena itu tulang kaki anak obesitas biasanya mempunyai ukuran yang lebih besar, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan ketika berjalan ataupun berlari.

Anak obesitas terkadang mengalami gangguan jiwa seperti kurang percaya diri dan depresi. Hal ini desebabkan oleh ejekan dan cemoohan dari teman sebayanya karena memiliki badan yang gemuk. Ejekan yang diterima oleh anak secara terus menerus dapat menimbulkan krisis percaya diri. Apabila hal ini tidak segera diatasi dengan tepat dapat menyebabkan anak menjadi depresi karena tertekan.

Ejekan yang mungkin diterima anak obesitas dari teman sebayanya juga akan mengganggu hubungan sosial dengan temannya. Anak obesitas akan dikucilkan dari lingkungan teman sebayanya. Terdapat beberapa penolakan sosial dari lingkungan sekitar karena kondisi badannya yang obesitas.

Preventif (Pencegahan)

Tingkat risiko obesitas pada anak dapat dicegah dengan melakukan beberapa hal di antaranya meningkatkan aktivitas anak, modifikasi pola asuh orangtua dan perilaku anak, dan modifikasi pola makan ke arah pola makan sehat. Faktor risiko dapat dihambat dan dicegah apabila orangtua telah menyadari sejak dini bahwa anaknya berpotensi terkena obesitas.

Meningkatkan aktivitas pada anak merupakan salah satu cara yang tepat untuk mencegah obesitas pada anak. Pola aktivitas yang baik dapat diterapkan orangtua pada anak mereka. Beraktivitas di luar rumah seperti bermain bola dengan teman sebayanya dan berolahraga secara rutin dapat meningkatkan pengeluaran energi dan pembakaran kalori yang terdapat dalam tubuh anak. Olahraga secara rutin dapat memberikan dampak yang baik bagi kesehatan tubuh anak.

Pola asuh orangtua haruslah memperhatikan aspek kesehatan dan psikologi dalam tumbuh kembang anak. Orangtua dapat memberi contoh kepada anak mereka untuk selalu berolahraga secara teratur. Istirahat yang cukup dapat mengurangi risiko obesitas pada anak. Memberikan perhatian yang cukup kepada anak dan selalu melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap aktivitas anak mereka. Perhatian dan pengontrolan kepada anak harus dimulai ketika masih bayi.

Pola makan anak ketika bayi akan memberikan dampak hingga ia dewasa. Pemberian makanan padat sebelum usia anak 4 bulan akan meningkatkan risiko obesitas.Pemberian ASI ekslusif ketika bayi dapat menjadi solusi bagi kebutuhan gizi anak.

JADI, Orangtua hendaknya memodifikasi makanan anak dengan memberi anak mereka makanan sehat yang cukup serat dan seimbang gizi. Hindarkan anak dari kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji. Berikanlah makanan yang bervariasi setiap harinya dengan kandungan gizi yang seimbang. Hiaslah makanan semenarik mungkin agar anak lebih menyukai makanan yang disediakan orangtua dibandingkan makanan cepat saji.

Anak yang menderita obesitas akan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun psikis. Peran orangtua sangatlah diharapkan untuk mencegah obesitas pada anak. Pengontrolan dan pengawasan orangtua terhadap keseharian perilaku dan pola hidup anak harulah memuat unsur kesehatan fisik maupun psikis. Pola aktivitas dan pola makan anak hendaknya dipantau orangtua untuk mencegah terjadinya berbagai macam penyakit akibat obesitas pada anak.

 

Daftar Pustaka

Ginanjar, Wahyu. Obesitas Pada Anak. Bandung: Mizan. 2009

Haurissa, Andreas Erick. Anak Lama Menyusu Botol Lebih Gampang Gemuk diakses pada tanggal 23 Mei 2011 dari www.tanyadokteranda.com

Huh, Susanna Y.  “Pediatrics Risiko Obesitas” dalam Mediaupdate. Edisi April 2011. h. 48

Intan. Definisi Obesitas diakses pada tanggal 7 Juni 2011 dari http://intanpsikologi.wordpress.com/2010/05/29/definisi-obesitas/

Kumala, Vinka. Anakku Gemuk Sekali Bahayakah ?. Diakses pada tanggal 23 Mei 2011 dari www.tanyadokteranda.com

Lestari, Cindy. Ternyata Obesitas Berhubungan dengan Kurang Tidur diakses pada tanggal 23 Mei 2011 dari www.tanyadokteranda.com

Sarafino, Edward. Health Psychology. United States of America: John Wiley&Sons, Inc. 1994

Supriasa, I Dewa Nyoman dkk. Status Gizi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC). 2002

Westcott, Patsy. Makanan Sehat Untuk Bayi dan Balita. Jakarta: Dian Rakyat. 2009

 

 

Seperti biasa yang mau ambil tolong dtitulis sumbernya… terimakasih…^_^

About these ads

4 responses to “Obesitas Pada Anak

  1. obesitas emang bukan selalu berarti sehat ya bu -_-

    jadi inget, saya punya temen, temen saya pny keponakan..
    keponakannya umur sekitar 1,5 th.
    badannya gede banget bu..
    malah kalo lagi celentang, perutnya yg buncit bikin dy terkesan ky bapak2.
    tapi lucu juga..

    heheee.

    ngomong2 salam kenal ya bu -_-
    twitternya udh saya follow.. follow back mau ya ;)

  2. iiya emang gak selamanya gemuk itu sehat, malah anak yg kegemukan ngeliyatnya jadi kasihan mereka gerak tubuhnya jadi lamban dibandingkan teman-temannya, banyak risiko untuk kesehatan si anak tersebut di masa depan kalo tidak dikontrol BB nya… okeei salam kenal juga ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s