Pengelolaan Sampah Padat

Jadi teringat dahulu pernah mendapatkan tugas tentang mencari bagaimana cara untuk memanfaatkan sampah. Kawan, sebenernya gak ada barang yang tidak berguna jika kita bisa mengolahnya dengan bijak. Terkadang sesuatu yang kita anggap biasa justru itu malah yang luar biasa. So, saya mau mencoba share nih tentang cara pengelolaan sampah , khususnya sampah padat.

Pengertian Sampah Padat

Menurut Kamus Istilah Lingkungan sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembikinan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan.  Sedangkan Dr. Tandjung, M.Sc. mengatakan bahwa sampah adalah sesuatu yang tidak berguna lagi, dibuang oleh pemiliknya atau pemakai semula.[1]

Penggolongan Sampah Menurut Sumbernya

Sampah padat adalah segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah cair. Dapat berupa sampah rumah tangga: sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas dan lain-lain. Menurut bahannya sampah ini dikelompokkan menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik Merupakan sampah yang berasal dari barang yang mengandung bahan-bahan organik, seperti sisa-sisa sayuran, hewan, kertas, potongan-potongan kayu dari peralatan rumah tangga, potongan-potongan ranting, rumput pada waktu pembersihan kebun dan sebagainya.

Secara umum sampah didapat dari pemukiman penduduk, tempat umum dan tempat perdagangan, sarana layanan masyarakat milik pemerinta, indusr=tri berat dan ringan serta pertanian.

Jenis Sampah Padat dan Faktor yang Mempengaruhi Jumlahnya

Berdasarkan kemampuan diurai oleh alam (biodegradability), maka dapat dibagi lagi menjadi:

  1. Biodegradable: yaitu sampah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh proses biologi baik aerob atau anaerob, seperti: sampah dapur, sisa-sisa hewan, sampah pertanian dan perkebunan.
  2. Non-biodegradable: yaitu sampah yang tidak bisa diuraikan oleh proses biologi. Dapat dibagi lagi menjadi:

a)       Recyclable: sampah yang dapat diolah dan digunakan kembali karena memiliki nilai secara ekonomi seperti plastik, kertas, pakaian dan lain-lain.

b)       Non-recyclable: sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak dapat diolah atau diubah kembali seperti tetra packs, carbon paper, thermo coal dan lain-lain.[2]

Berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya dibagi menjadi organik seperti sisa makanan, daun, sayur dan anorganik seperti logam, pecah belah.

Berdasarkan dapat atau tidaknya dibakar dikelompokkan menjadi mudah terbakar, dan tidak mudah terbakar. Sedangkan berdasarkan daat atau tidaknya membusuk dibagi menjadi mudah membusuk seperti sisa makanan dan sulit membusuk seperti plastik atau karet.

Berdasarkan ciri atau karakteristik sampah maka dikelompokkan menjadi:

a)      Garbage, terdiri dari zat-zat yang mudah terurai

b)      Rubbish, seperti karet, kayu, dan kaca

c)      Ashes, semua sisa pembakaran dari industri

d)     Street sweeping, sampah dari jalan atau trotoar

e)      Dead animal, bangkai binatang besar

f)       House hold refuse, sampah campuran

g)      Abandoned vehicle, bangkai kendaraan

Kota-kota di dunia pada hakekatnya berkembang dengan karakteristik yang berbeda-beda, karena perkembangan kota sangat dipengaruhi oleh keadaan geografis dan sejarah/kebudayaan. Keadaan geografis kota lebih mempengaruhi fungsi dan bentuk kota, sedangkan sejarah dan kebudayaan akan mempengaruhi karakteristik dan sifat kemasyarakatan Kota (Branch, 1995: 37-38).

Menurut Azwar (1993:18) kota adalah suatu wilayah geografis tempat bermukim sejumlah penduduk dengan tingkat kepadatan penduduk yang relatif tinggi, kegiatan utamanya di sektor non agraris serta mempunyai kelengkapan prasarana dan sarana yang relatif lebik baik dibandingkan dengan kawasan sekitarnya. Kota dengan daya tarik yang dimilikinya, agar mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya harus memiliki penghuni yang aktif, kreatif, bertanggungjawab, juga memiliki sumber modal (Bintarto, 1997:51).

Perkembangan kota yang cepat membawa dampak pada masalah lingkungan. Perilaku manusia terhadap lingkungan akan menentukan wajah kota, sebaliknya lingkungan juga akan mempengaruhi perilaku manusia. Lingkungan yang bersih akan meningkatkan kualitas hidup (Alkadri et al, 1999:159). Perkembangan kota akan diikuti pertambahan jumlah penduduk, yang juga akan di ikuti oleh masalah – masalah sosial dan lingkungan. Salah satu masalah lingkungan yang muncul adalah masalah persampahan. Permasalahan lingkungan yang terjadi akan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan (Alkadri et al, 1999:163).

Sampah akan menjadi beban bumi, artinya ada resiko-resiko yang akan ditimbulkannya (Hadi, 2000:40). Ketidakpedulian terhadap permasalahan pengelolaan sampah berakibat terjadinya degradasi kualitas lingkungan yang tidak memberikan kenyamanan untuk hidup, sehingga akan menurunkan kualitas kesehatan masyarakat.[3]

Pengelolaan dan Manajemen Sampah

Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang (material) yang kita gunakan sehari-hari. Jenis sampah pun sangat tergantung dari jenis material yang kita konsumsi. Persoalan lingkungan yang selalu menjadi isu besar di hampir seluruh wilayah perkotaan adalah masalah sampah (Febrianie dalam Kompas 10 Januari 2004).

Arif Rahmanullah dalam Kompas, 13 Agustus 2003 mengatakan bahwa laju pertumbuhan ekonomi di kota dimungkinkan menjadi daya tarik luar biasa bagi penduduk untuk hijrah ke kota (urbanisasi). Akibatnya jumlah penduduk semakin membengkak, konsumsi masyarakat perkotaan melonjak, yang pada akhirnya akan mengakibatkan jumlah sampah juga meningkat. Pertambahan jumlah sampah yang tidak diimbangi dengan pengelolaan yang ramah lingkungan akan menyebabkan terjadinya perusakan dan pencemaran lingkungan (Tuti Kustiah, 2005:1). Lebih jauh lagi, penanganan sampah yang tidak komprehensif akan memicu terjadinya masalah sosial, seperti amuk massa, bentrok antar warga, pemblokiran fasilitas TPA (Hadi, 2004)[4]

Secara teoritik, untuk mengatasi persoalan sampah mengharuskan dilakukannya pergeseran pendekatan dari pendekatan ujung-pipa (end-pipe of solution) ke pendekatan sumber. Dengan pendekatan sumber, maka sampah ditangani pada hulu sebelum sampah itu sampai ke tempat pengolahan akhir  (Syafrudin, 2004:1).

Pada prinsipnya, pendekatan sumber menghendaki dikuranginya produk sampah yang akan dikirim ke tempat pengolahan akhir. Cara yang dapat ditempuh untuk mengurangi sampah antara lain pemilahan sampah dan penerapan prinsip 3R(Reduce, Reuse, Recycle) atau pengurangan, penggunaan kembali dan mendaur ulang sampah (Syafruddin, 2004:1).

Sistem pengelolaan sampah adalah proses pengelolaan sampah yang meliputi 5 (lima) aspek/komponen yang saling mendukung dimana antara satu dengan yang lainnya saling berinteraksi untuk mencapai tujuan (Dept. Pekerjaan Umum, SNI 19-2454-2002). Kelima aspek tersebut meliputi: aspek teknis operasional , aspek organisasi dan manajemen, aspek hukum dan peraturan, aspek bembiayaan, aspek peran serta masyarakat.

Aspek Teknis Operasional merupakan komponen yang paling dekat dengan obyek persampahan. Menurut Hartoyo (1998:6), perencanaan sistem persampahan memerlukan suatu pola standar spesifikasi sebagai landasan yang jelas. Spesifikasi yang digunakan adalah Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 19-2454-2002 tentang Tata Cara Pengelolaan Sampah di Permukikman. Teknik operasional pengelolaan sampah bersifat integral dan terpadu secara berantai dengan urutan yang berkesinambungan yaitu: penampungan/pewadahan, pengumpulan, pemindahan, pengangkutan, pembuangan/pengolahan.

Aspek Teknik Operasional merupakan salah satu upaya dalam mengontrol pertumbuhan sampah, namun pelaksanaannya tetap harus disesuaikan dengan pertimbangan kesehatan, ekonomi, teknik, konservasi, estetika dan pertimbangan lingkungan (Tchobanoglous,1997:363).

Proses awal dalam penanganan sampah terkait langsung dengan sumber sampah adalah penampungan. Penampungan sampah adalah suatu cara penampungan sampah sebelum dikumpulkan, dipindahkan, diangkut dan dibuang ke TPA. Tujuannya adalah menghindari agar sampah tidak berserakan sehingga tidak menggangu lingkungan. . Faktor yang paling mempengaruhi efektifitas tingkat pelayanan adalah kapasitas peralatan, pola penampungan, jenis dan sifat bahan dan lokasi penempatan (SNI 19-2454-2002).

Pengumpulan sampah adalah cara proses pengambilan sampah mulai dari tempat penampungan sampah sampai ke tempat pembuangan sementara. Pola pengumpulan sampah pada dasarnya dikempokkan dalam 2 (dua) yaitu pola individual dan pola komunal (SNI 19-2454-2002).

Proses pemindahan sampah adalah memindahkan sampah hasil pengumpulan ke dalam alat pengangkutan untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir. Tempat yang digunakan untuk pemindahan sampah adalah depo pemindahan sampah yang dilengkapi dengan container pengangkut dan atau ram dan atau kantor, bengkel (SNI 19-2454-2002). Pemindahan sampah yang telah terpilah dari sumbernya diusahakan jangan sampai sampah tersebut bercampur kembali (Widyatmoko dan Sintorini Moerdjoko, 2002:29).

Pengangkutan adalah kegiatan pengangkutan sampah yang telah dikumpulkan di tempat penampungan sementara atau dari tempat sumber sampah ke tempat pembuangan akhir. Berhasil tidaknya penanganan sampah juga tergantung pada sistem pengangkutan yang diterapkan. Pengangkutan sampah yang ideal adalah dengan truck container tertentu yang dilengkapi alat pengepres, sehingga sampah dapat dipadatkan 2-4 kali lipat (Widyatmoko dan Sintorini  Moerdjoko, 2002:29). Tujuan pengangkutan sampah adalah menjauhkan sampah dari perkotaan ke tempat pembuangan akhir yang biasanya jauh dari kawasan perkotaan dan permukiman.

Pembuangan akhir merupakan tempat yang disediakan untuk membuang sampah dari semua hasil pengangkutan sampah untuk diolah lebih lanjut. Prinsip pembuang akhir sampah adalah memusnahkan sampah domestik di suatu lokasi pembuangan akhir. Jadi tempat pembuangan akhir merupakan tempat pengolahan sampah. Menurut SNI 19-2454-2002 tentang Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan, secara umum teknologi pengolahan sampah dibedakan menjadi 3 metode yaitu

a.         Metode Open Dumping

Merupakan sistem pengolahan sampah dengan hanya membuang/ menimbun sampah disuatu tempat tanpa ada perlakukan khusus/ pengolahan sehingga sistem ini sering menimbulkan gangguan pencemaran lingkungan.

b.         Metode Controlled Landfill (Penimbunan terkendali)

Controlled Landfill adalah sistem open dumping yang diperbaiki yang merupakan sistem pengalihan open dumping dan sanitary landfill yaitu dengan penutupan sampah dengan lapisan tanah dilakukan setelah TPA penuh yang dipadatkan atau setelah mencapai periode tertentu.

c.         Metode Sanitary landfill (Lahan Urug Saniter)

Sistem pembuangan akhir sampah yang dilakukan dengan cara sampah ditimbun dan dipadatkan, kemudian ditutup dengan tanah sebagai lapisan penutup.

Aspek pembiayaan berfungsi untuk membiayai operasional pengelolaan sampah yang dimulai dari sumber sampah/penyapuan, pengumpulan, transfer dan pengangkutan, pengolahan dan pembuangan ahkir. Selama ini dalam pengelolaan sampah perkotaan memerlukan subsidi yang cukup besar, kemudian diharapkan sistem pengelolaan sampah ini dapat memenuhi kebutuhan dana sendiri dari retribusi (Dit.Jend. Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan, Dep.Kimpraswil, 2003).

Prinsip aspek peraturan pengelolaan persampahan berupa peraturanperaturan daerah yang merupakan dasar hukum pengelolaan persampahan yang meliputi (Hartoyo, 1998:8) :

a)      Perda yang dikaitkan dengan ketentuan umum pengelolaan kebersihan.

b)      Perda mengenai bentuk institusi formal pengelolaan kebersihan.

c)      Perda yang khusus menentukan struktur tarif dan tarif dasar pengelolaan kebersihan

Peraturan–peraturan tersebut melibatkan wewenang dan tanggung jawab pengelola kebersihan serta partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan dan pembayaran retribusi.

Peran serta masyarakat sangat mendukung program pengelolaan sampah suatu wilayah. Peran serta masyarakat dalam bidang persampahan adalah proses dimana orang sebagai konsumen sekaligus produsen pelayanan persampahan dan sebagai warga mempengaruhi kualitas dan kelancaran prasarana yang tersedia untuk mereka. Peran serta masyarakat penting karena peran serta merupakan alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat, masyarakat lebih mempercayai proyek/program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaan (LP3B Buleleng-Clean Up Bali, 2003).

Bentuk peran serta masyarakat dalam penanganan atau pembuangan sampah antara lain: pengetahuan tentang sampah/kebersihan, rutinitas pembayaran retribusi sampah, adanya iuran sampah RT/RW/Kelurahan, kegiatan kerja bakti, penyediaan tempat sampah.

M Gempur Adnan, Deputi II Bidang Pengendalian Pencemaran Kementerian Negara Lingkungan Hidup, mengatakan sebagai pengganti sistem penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir yang banyak diprotes masyarakat, pemerintah kini mendorong penerapan pengelolaan sampah dengan sistem 3R (reuse, reduce, dan recycle) pada skala kota.

Program pengelolaan sampah terpadu dengan prinsip pengunaan kembali, daur ulang dan pengurangan (reuse, recycle, reduce/3R) ini bermanfaat untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dengan prinsip tersebut, jumlah sampah yang dibuang ke TPA tinggal 35 persen sehingga meringankan beban TPA sekaligus memperpanjang masa pemakaiannya. Undang-undang RI nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus dilakukan secara komprehensif sejak hulu sampai hilir. Pada tingkat perumahan atau kelurahan, dilakukan kegiatan pengurangan sampah melalui program 3R.

Dalam pengelolaan menuju zero waste, proses pemilahan dan pengolahan harus dilaksanakan di sumber sampah, baik bersamaan maupun secara berurutan dengan pewadahan sampah. Pengelolaan sampah diawali dari lokasi timbulan sampah atau produsen sampah. Sampah dipisah antara sampah organik dan sampah anorganik, dan ditempatkan pada wadah sampah yang berbeda.

Sampah organik untuk diproses menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik biasanya dimanfaatkan untuk didaur ulang maupun dimanfaatkan kembali. Proses selanjutnya baik pengumpulan, pemindahan maupun pengangkutan sampah yang telah terpilah diusahakan jangan tercampur kembali. Upaya ini untuk meningkatkan efisiensi pengolahan sampah.

Oke semoga bermanfaat, salam belajar salam blogger… Jangan lupa yang mau ambil dan menjadikan referensi tolong ditulis sumbernya.. Terimakasih… Berbagi itu indah, mari sama-sama belajar ^___^


[1] Astriani. Pengertian Sampah diambil dari http://astriani.wordpress.com/2009/01/20/pengertian-sampah/ diakses pada tanggal 5 Juli 2011.

[2]  Sampah diambil dari Wikipedian Ensiklopedia Bebas di http://id.wikipedia.org/wiki/Sampah diakses pada tanggal 5 Juli 2011

[3] Faizah. Pengelolaan sampah rumah tangga Berbasis masyarakat. Tesis Mahasiswi Pascasarjana  Program Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang 2008 NIM. L4K007004

[4]Ibid,

Obesitas Pada Anak

Okei kawan semuanya… sering donk kita ngeliat anak kecil ‘ndut dan lucu… wah bawaannya gemess yah pasti..hahah… belum lagi pipinya yg gembull kyk pengen mnta dicubit ^_^

Seringkali banyak orangtua menginginkan anaknya tumbuh dengan sehat, gemuk dan terlihat lucu. Sekilas anak yang gemuk memang terlihat lucu dan menggemaskan, bahkan ada ungkapan jikalau anak gemuk berarti sehat. Tak heran jika banyak produk kesehatan ataupun makanan untuk anak atau balita lebih menekankan pada upaya menambah berat.

Pola pemahaman seperti itu mungkin tidak berlaku, karena anak gemuk mempunyai faktor risiko bagi kesehatan. Indikator kesehatan bagi anak atau balita juga tidak hanya ditentukan melalui berat badan. Berat badan yang berlebih biasa disebut dengan obesitas, obesitas dikhawatirkan memberikan dampak yang kurang baik bagi kesehatan anak.

Pengertian Obesitas

Obesitas atau kegemukan yang berlebih dimaknai berbeda bagi setiap orang. Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan berdasarkan beberapa pengkuran tertentu. Obesitas pada anak adalah kondisi medis pada anak yang ditandai dengan barat badan di atas rata-rata dari indeks massa tubuhnya (Body Mass Index) yang di atas normal. Indeks Massa Tubuh (IMT) dihitung dengan cara mengalikan berat badan anak kemudian dibagi dengan kuadrat dari besar tinggi anak. Jika seorang anak memiliki IMT di atas 25 kg/m2,maka anak tersebut menderita obesitas.

Obesitas pada anak dapat dinilai dari beberapa kriteria selain IMT. Terkadang seseorang anak terlihat gemuk, namun belum tentu disebut obesitas. Beberapa metode dan teknik diagnosis dapat dilakukan untuk menilai apakah anak gemuk sudah memasuki tahap obesitas atau hanya over weight.

Penyebab Obesitas

Tubuh menjadi gemuk karena energi yang masuk berbentuk kalori dalam makanan lebih banyak daripada yang dikeluarkan dalam bentuk aktivitas. Anak sehat yang dibiarkan makan menurut seleranya terkadang tidak mengalami pengontrolan dalam pola makan. Anak bisa menjadi tampak lebih berat apabila suka mengemil. Hal ini dapat menjadi masalah makan berlebihan di kemudian hari.

Anak yang memiliki masalah dengan berat badan disebabkan oleh beberapa faktor obesitas. Faktor obesitas ialah faktor yang menjadi penentu atau faktor risiko bagi seorang anak untuk bisa terkena obesitas. Semua anak yang nafsu makannya lebih banyak ternyata tidak semua menjadi gemuk dan mengalami obesitas. Masing-masing anak mengalami sistem metabolisme yang berbeda satu sama lain. Anak yang memiliki kecepatan metabolisme lebih lambat memiliki risiko lebih besar menderita obesitas.

Obesitas cenderung dipengaruhi oleh turunan dari keluarga. Apabila ada orangtua yang obesitas dalam keluarga, maka kemungkinan anaknya juga akan menderita obesitas. Namun, tidak sedikit dari ahli kesehatan menilai bahwa faktor genetik bukanlah penentu dominan dalam obesitas pada anak. Obesitas pada anak juga ditentukan oleh faktor risiko lainnya.

Pola aktivitas yang dilakukan oleh seorang anak juga dapat mempengaruhi seorang anak terkena obesitas. Pola aktivitas yang minim akan meningkatkan risiko kegemukan dan obesitas pada anak. Kebiasaan anak pada zaman sekarang lebih menyukai beraktivitas di dalam rumah seperti menonton televisi daripada bermain di luar rumah seperti bermain bola atau gobak sodor dengan teman sebayanya yang lebih menguras energi. Dalam jangka waktu yang panjang kebiasaan anak yang minim gerak ini akan berdampak buruk bagi kesehatannya karena berpotensi menimbulkan kegemukan dan obesitas.

Selain faktor turunan dan pola aktivitas, pola makan juga berperan dalam peningkatan risiko terjadinya obesitas pada anak. Saat ini, pola makan anak-anak lebih sering mengkonsumsi makanan cepat saji. Makanan cepat saji pada umumnya memiliki kadar kalori yang sangat tinggi, rendah serat dan kandungan gizi.

Pola asuh orang tua kepada anak juga akan mempengaruhi anak risiko pada anak. Kebiasaan orangtua yang membiarkan anaknya lebih sering bermain di dalam rumah daripada beraktivitas di luar rumah dan bermain dengan teman sebayanya akan mempengaruhi faktor risiko obesitas pada anak. Para orangtua berperan penting dalam membentuk kebiasaan dan pola makan anak-anak mereka. Anak sering kali bersikap pasif dan hanya mengkonsumsi makanan yang disediakan oleh orangtuanya.

Dampak Obesitas

Obesitas pada anak akan menimbulkan berbagai keluhan dan gangguan penyakit. Pada umumnya, gangguan kesehatan yang terjadi pada anak obesitas ialah gangguan secara klinis, mental dan sosial. Anak yang terlalu gemuk kakinya tidak dapat menahan berat badan, akan lebih lambat duduk, bergerak dan berjalan dibanding anak yang kurus, bahkan cenderung mengganggu pernapasan.

Terdapat banyak gangguan klinis yang ditimbulkan akibat obesitas pada anak di antaranya kencing manis (diabetes mellitus tipe II), asma bronkhiale, hipertensi, sleep apnea dan gangguan tulang sendi. Gangguan klinis akibat obesitas akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.

Kencing manis yang juga disebut dengan diabetes mellitus tipe II pada anak obesitas merupakan hal yang sangat mengkhawatirkan. Anak-anak penderita diabetes mellitus tipe II berisiko tinggi menderita berbagai penyakit komplikasi seperti gagal ginjal kronis, penyakit jantung bahkan stroke dini. Anak penderita diabetes mellitus tipe II memiliki produksi insulin yang terganggu. Kebiasaan yang buruk pada pola makan anak obesitas dapat meningkatkan terjadinya penyakit kencing manis pada anak.

Asma bronkhiale merupakan kelainan sistem pernapasan yang ditandai dengan penyempitan pada saluran napas dan bersifat sementara serta dapat semuh secara spontan tanpa pengobatan. Anak obesitas yang memiliki pola aktivitas yang rendah akan berisiko terkena asma bronkhiale.

Hipertensi dapat disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya obesitas. Anak obesitas yang menderita hipertensi akan mengalami berbagai penyakit komplikasi lainnya dan kerusakan organ seperti gangguan fungsi mata, jantung, dan kelainan fungsi otak.

Sleep apnea adalah gangguan pernapasan ketika tidur. Sleep apnea pada anak ditandai dengan terhentinya napas sekitar sepuluh detik ketika tidur. Anak yang obesitas mengalami penumpukan lemak yang berlebihan di dalam tubuhnya. Penumpukan lemak yang berlebihan akan mengganggu darah dalam mengedarkan oksigen ketika proses oksidasi dan metabolisme berlangsung.

Obesitas pada anak berpotensi menimbulkan kelainan bentuk dan ukuran tulang, ketidakseimbangan, maupun rasa nyeri yang sangat kuat ketika berdiri, berjalan, maupun berlari. Obesitas anak dapat memberikan tekanan dan regangan yang lebih besar terutama pada tulang kaki daripada anak dengan berat normal. Oleh karena itu tulang kaki anak obesitas biasanya mempunyai ukuran yang lebih besar, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan ketika berjalan ataupun berlari.

Anak obesitas terkadang mengalami gangguan jiwa seperti kurang percaya diri dan depresi. Hal ini desebabkan oleh ejekan dan cemoohan dari teman sebayanya karena memiliki badan yang gemuk. Ejekan yang diterima oleh anak secara terus menerus dapat menimbulkan krisis percaya diri. Apabila hal ini tidak segera diatasi dengan tepat dapat menyebabkan anak menjadi depresi karena tertekan.

Ejekan yang mungkin diterima anak obesitas dari teman sebayanya juga akan mengganggu hubungan sosial dengan temannya. Anak obesitas akan dikucilkan dari lingkungan teman sebayanya. Terdapat beberapa penolakan sosial dari lingkungan sekitar karena kondisi badannya yang obesitas.

Preventif (Pencegahan)

Tingkat risiko obesitas pada anak dapat dicegah dengan melakukan beberapa hal di antaranya meningkatkan aktivitas anak, modifikasi pola asuh orangtua dan perilaku anak, dan modifikasi pola makan ke arah pola makan sehat. Faktor risiko dapat dihambat dan dicegah apabila orangtua telah menyadari sejak dini bahwa anaknya berpotensi terkena obesitas.

Meningkatkan aktivitas pada anak merupakan salah satu cara yang tepat untuk mencegah obesitas pada anak. Pola aktivitas yang baik dapat diterapkan orangtua pada anak mereka. Beraktivitas di luar rumah seperti bermain bola dengan teman sebayanya dan berolahraga secara rutin dapat meningkatkan pengeluaran energi dan pembakaran kalori yang terdapat dalam tubuh anak. Olahraga secara rutin dapat memberikan dampak yang baik bagi kesehatan tubuh anak.

Pola asuh orangtua haruslah memperhatikan aspek kesehatan dan psikologi dalam tumbuh kembang anak. Orangtua dapat memberi contoh kepada anak mereka untuk selalu berolahraga secara teratur. Istirahat yang cukup dapat mengurangi risiko obesitas pada anak. Memberikan perhatian yang cukup kepada anak dan selalu melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap aktivitas anak mereka. Perhatian dan pengontrolan kepada anak harus dimulai ketika masih bayi.

Pola makan anak ketika bayi akan memberikan dampak hingga ia dewasa. Pemberian makanan padat sebelum usia anak 4 bulan akan meningkatkan risiko obesitas.Pemberian ASI ekslusif ketika bayi dapat menjadi solusi bagi kebutuhan gizi anak.

JADI, Orangtua hendaknya memodifikasi makanan anak dengan memberi anak mereka makanan sehat yang cukup serat dan seimbang gizi. Hindarkan anak dari kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji. Berikanlah makanan yang bervariasi setiap harinya dengan kandungan gizi yang seimbang. Hiaslah makanan semenarik mungkin agar anak lebih menyukai makanan yang disediakan orangtua dibandingkan makanan cepat saji.

Anak yang menderita obesitas akan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun psikis. Peran orangtua sangatlah diharapkan untuk mencegah obesitas pada anak. Pengontrolan dan pengawasan orangtua terhadap keseharian perilaku dan pola hidup anak harulah memuat unsur kesehatan fisik maupun psikis. Pola aktivitas dan pola makan anak hendaknya dipantau orangtua untuk mencegah terjadinya berbagai macam penyakit akibat obesitas pada anak.

 

Daftar Pustaka

Ginanjar, Wahyu. Obesitas Pada Anak. Bandung: Mizan. 2009

Haurissa, Andreas Erick. Anak Lama Menyusu Botol Lebih Gampang Gemuk diakses pada tanggal 23 Mei 2011 dari www.tanyadokteranda.com

Huh, Susanna Y.  “Pediatrics Risiko Obesitas” dalam Mediaupdate. Edisi April 2011. h. 48

Intan. Definisi Obesitas diakses pada tanggal 7 Juni 2011 dari http://intanpsikologi.wordpress.com/2010/05/29/definisi-obesitas/

Kumala, Vinka. Anakku Gemuk Sekali Bahayakah ?. Diakses pada tanggal 23 Mei 2011 dari www.tanyadokteranda.com

Lestari, Cindy. Ternyata Obesitas Berhubungan dengan Kurang Tidur diakses pada tanggal 23 Mei 2011 dari www.tanyadokteranda.com

Sarafino, Edward. Health Psychology. United States of America: John Wiley&Sons, Inc. 1994

Supriasa, I Dewa Nyoman dkk. Status Gizi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC). 2002

Westcott, Patsy. Makanan Sehat Untuk Bayi dan Balita. Jakarta: Dian Rakyat. 2009

 

 

Seperti biasa yang mau ambil tolong dtitulis sumbernya… terimakasih…^_^

RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT (RAP)

1.1 Latar Belakang

Munculnya berbagai macam penyakit disebabkan oleh banyak faktor. Studi RAP yakni Riwayat Alamiah Penyakit mempelajari bagaimana suatu penyakit dapat timbul dan tersebar. Studi ini diduga mempunyai manfaat dalam mengetahui bagaimana pencegahan penyakit yang seharusnya dilakukan. Jika ada sebab pastilah ada sumbernya. Maka, pada makalah kali ini penyusun akan menjabarkan bagaimana proses suatu penyakit terjadi, struktur kejadian seperti masa inkubasi bahkan mencoba menerapkan level of prevention dalam penjabarannya, agar penyakit tersebut dapat tertangani dan teratasi tanpa mengabaikan dasar-dasar ilmu epidemiologi yang telah ada.

Telah diketahui bahwa perkembangan zaman di bidang ilmu pengetahuan maupun teknologi membawa dampak lingkungan yang besar terhadap lingkungan, maka dari situlah penyakit yang pada umumnya bersifat biasa saja menjadi suatu penyakit yang lebih bersifat patogen, dan adanya transisi epidemiologi merupakan salah satu buktinya.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Menjelaskan proses perkembangan penyakit secara alamiah (RAP) dan pola perkembangan penyakit.
  2. Menjelaskan masa inkubasi berbagai macam penyakit.
  3. Menjelaskan Epidemiological Iceberg & Spectrum of Illness.
  4. Menjelaskan konsep tingkat pencegahan penyakit (level of Prevention).
  5. Menjelaskan manfaat RAP dalam epidemiologi

1.3  Tujuan Penyusunan

  1. Untuk mengetahui bagaimana kaitan Riwayat Alamiah Penyakit dengan masa inkubasi berbagai macam penyakit untuk mengetahui konsep pencegahannya menurut ilmu epidemiologi.

1.4 Manfaat Penyusunan

  1. Menjadi referensi bagi penyusun dan mahasiswa lainnya.
  2. Menambah wawasan dan pengetahuan.

1.5 Sistematika Penyusunan

Bab I    Pendahuluan

1.1        Latar Belakang Masalah

1.2        Rumusan Masalah

1.3        Tujuan Penyusunan

1.4        Manfaat Penyusunan

1.5        Sistematika Penyusunan

Bab II   Pembahasan

2.1        Riwayat Alamiah Penyakit (RAP)

2.2        Pola Perkembangan dan Spektrum Penyakit

2.3  Epidemiological Iceberg

2.4        Konsep Tingkat Pencegahan Penyakit (Level of Prevention)

2.5        Manfaat RAP dalam epidemiologi

Bab III  Penutup

3.1    Kesimpulan

3.2    Daftar pustaka


PEMBAHASAN

2.1 Riwayat Alamiah Penyakit (RAP)

Riwayat Alamiah Penyakit (Natural History of Disease) adalah perkembangan suatu penyakit tanpa adanya campur tangan medis atau bentuk intervensi lainnya sehingga suatu penyakit berlangsung secara natural.
Pembagian RAP

Pada umumnya secara umum RAP dibagi menjadi 3 tahap, yakni tahap patogenesis, pre-patogenesis (masa inkubasi, penyakit dini dan penyakit lanjut), dan tahap pasca patogenesis (penyakit akhir). Pada pembahasan kali ini, saya akan membahasnya secara rinci riwayat alamiah suatu penyakit, agar mudah menghafal, maka kita golongkan RAP dalam 5 tahap :

1. Tahap Pre Patogenesis (Stage of Susceptibility)

Tahap ini telah terjadi interaksi antara penjamu dengan bibit penyakit, tetapi interaksi ini terjadi di luar tubuh manusia, dalam arti bibit penyakit berada di luar tubuh manusia dan belum masuk ke dalam tubuh. Pada keadaan ini belum ditemukan adanya tanda-tanda penyakit dan daya tahan tubuh penjamu masih kuat dan dapat menolak penyakit. Keadaan ini disebut sehat.

2. Tahap inkubasi (Stage Of Presymtomatic Disease)

Pada tahap ini bibit penyakit masuk ke tubuh penjamu, tetapi gejala-gejala penyakit belum nampak. Tiap-tiap penyakit mempunyai masa inkubasi yang berbeda. Masa inkubasi adalah tenggang waktu antara masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh yang peka terhadap penyebab penyakit, sampai timbulnya gejala penyakit. Misalnya seperti kolera 1-2 hari, yang bersifat menahun misalnya kanker paru, AIDS dll. Berikut informasi tentang masa inkubasi berbagai macam penyakit:

Tabel 2.1

Masa Inkubasi Berbagai Macam Penyakit

NO PENYAKIT PENGERTIAN GEJALA KLINIS MASA INKUBASI
1 Shigelosis Disentri Basiler Penyakit diare yang disebabkan oleh : Shigella, contohnya Sh. Dysenteriae, Sh. Flexneri, Sh. Boydii, Sh. Sonnei
  • Demam
  • Nyeri kepala
  • Nyeri perut hebat
  • Diare sedikit-sedikit bercampur lendir kemerahan
2 hari
2 Herpes Simplek Herpes simplek adalah penyakit yang mengenai kulit dan mukosa, bersifat kronis dan residif, disebabkan oleh virus herpes simplek herpes virus homanis. Infeksi herpes dapat menimbulkan implikasi (kesimpulan) serius apabila terjadi pada mata, sekitar serviks, pada bayi baru lahir, atau pada individu yang kekebalannya tertekan. Infeksi herpes pada mata menyebabkan keratitis herpatika. (Loetfia, 2007 : 47) Vesikel berkelompok yang nyeri dapat timbul setelah kontak primer dengan virus tersebut. Infeksi primer dapat terjadi pada sembarang tempat di kulit. Masa inkubasi sekitar 5 hari (berkisar antara 2-12 hari). (Mandal, 2006)
3 Hepatitis (Radang Hati/Liver) Hepatitis virus akut adalah : penyakit radang hati akut karena infeksi virus hepatotropik Umumnya melalui 4 tahap:

  • Masa tunas/inkubasi
  • Masa prodormal/preikterik : 3 – 10 hari
  • Masa ikterik : 1 – 2 minggu
  • Masa penyembuhan : 3 – 4 bulan
Masa tunas/inkubasi:

  • Virus Hb A : 14 – 45 hari
  • Virus Hb B : 40 – 180 hari
  • Virus Hb NANB : 15 – 60 hari
  • Virus delta : 40 – 180 hari
4 Parotitis (Gondongan) Penyakit infeksi akut akibat virus mumps. Sering menyerang anak-anak, terutama usia 2 tahun ke atas sampai kurang lebih 15 tahun. Ada beberapa lokasi yang diserang seperti kelenjar ludah di bawah lidah, di bawah rahang, dan di bawah telinga (parotitis)
  • Demam
  • Pusing
  • Mual
  • Nyeri otot
Masa inkubasi sekitar 14-24 hari setelah penularan yang terjadi lewat droplet.
5 Hepatitis A Penyakit Hepatitis A disebabkan oleh virus yang disebarkan oleh kotoran/tinja penderita biasanya melalui makanan (fecal – oral), bukan melalui aktivitas seksual atau melalui darah. Hepatitis A paling ringan dibanding hepatitis jenis lain (B dan C). Sementara hepatitis B dan C disebarkan melalui media darah dan aktivitas seksual dan lebih berbahaya dibanding Hepatitis A.
  • Lesu
  • Lelah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Mual
  • Muntah
  • Sakit kepala
Masa inkubasi berlangsung 18-50 hari dengan rata-rata kurang lebih 28 hari.
6 Kusta/Lepra Penyakit kusta disebut juga lepra (leprosy) atau Morbus Hansen, dan nama lain di India: Korh, Vaahi (Kala Vaah), Motala/ Motali Mata, Pathala dan Bada Dukh (Kandouw, 2000). Nama tersebut berbeda karena daerah yang berbeda menyebutkan lain, seperti pathala di Sondwa dan Korh dan Kala Vaa di Thandla (Bhopal, 2002). Umumnya ditemukan dalam 2 (dua) bentuk Pause basiler (PB) dan Multi basiler (MB) dan menurut WHO untuk menentukan kusta perlu adanya 4 (empat) criteria, yaitu :

  • Ditemukannya lesi kulit yang khas
  • Adanya gangguan sensasi kulit
  • Penebalan saraf tepi
  • BTA positif dari sediaan sayatan kulit
3-20 tahun, (Agusni, 2001).

Tabel 2.2

Pembagian Masa Inkubasi PMS (Penyakit Menular Seksual)

NO. JENIS PMS PENYEBAB MASA INKUBASI
1 Herpes

  • Herpes Zoster
  • Herpes Simplex
  • Virus Zoster
  • Terdapat dua tipe herpes simlex. Herpec simplec tipe satu disebabkan oleh Virus Herpes Simplex HSV-1, sedangkan Herpes Simplex tipe dua disebabkan oleh virus HSV-2.
7 sampai 12 hari

2
Sifilis Infeksi bakteri Treponema pallidum
  • Stadium Dini (primer) 9 – 10 hari
  • Stadium II (sekunder) 6 – 8 minggu
  • Stadium III (Laten) 3 – 7 tahun setelah infeksi
  • Sifilis Tersier 10 – 20 tahun setelah infeksi primer

3 Gonore Kuman Neisseria gonorrhoeae 1 – 14 hari, dengan rata-rata 2 – 5 hari
4 Trikomoniasis Parasit Trichomonas Vaginalis 3 – 28 hari
5 Kutil Kelamin/Kandiloma Akuminata/Jengger Ayam Human Papiloma Virus (HPV) tipe tertentu dengan kelainan berua fibroepitelioma pada kulit dan mukosa. 1 – 8 bulan (rata-rata 2 – 3 bulan)
6 Klamidia Bakteri Chlamydia trachomatis 7 – 12 hari



3. Tahap penyakit dini (Stage of Clinical Disease)

Tahap ini mulai dihitung dari munculnya gejala-gejala penyakit, pada tahap ini penjamu sudah jatuh sakit tetapi masih ringan dan masih bisa melakukan aktifitas sehari-hari. Bila penyakit segera diobati, mungkin bisa sembuh, tetapi jika tidak, bisa bertambah parah. Hal ini tergantung daya tahan tubuh manusia itu sendiri, seperti gizi, istirahat dan perawatan yang baik di rumah (self care).

4. Tahap penyakit lanjut
Bila penyakit penjamu bertambah parah, karena tidak diobati/tidak tertangani serta tidak memperhatikan anjuran-anjuran yang diberikan pada penyakit dini, maka penyakit masuk pada tahap lanjut. Penjamu terlihat tak berdaya dan tak sanggup lagi melakukan aktifitas. Tahap ini penjamu memerlukan perawatan dan pengobatan yang intensif.

5. Tahap penyakit akhir
Tahap akhir dibagi menjadi 5 keadaan :

a)      Sembuh sempurna (bentuk dan fungsi tubuh penjamu kembali berfungsi seperti keadaan sebelumnya/bebeas dari penyakit)

b)      Sembuh tapi cacat ; penyakit penjamu berakhir/bebas dari penyakit, tapi kesembuhannya tak sempurna, karena terjadi cacat (fisik, mental maupun sosial) dan sangat tergantung dari serangan penyakit terhadap organ-organ tubuh penjamu.

c)      Karier : pada karier perjalanan penyakit seolah terhenti, karena gejala penyakit tak tampak lagi, tetapi dalam tubuh penjamu masih terdapat bibit penyakit, yang pada suatu saat bila daya tahan tubuh penjamu menurun akan dapat kembuh kembali. Keadaan ini tak hanya membahayakan penjamu sendiri, tapi dapat berbahaya terhadap orang lain/masyarakat, karena dapat menjadi sumber penularan penyakit (human reservoir)

d)     Kronis ; pada tahap ini perjalanan penyakit tampak terhenti, tapi gejala-gejala penyakit tidak berubah. Dengan kata lain tidak bertambah berat maupun ringan. Keadaan ini penjamu masih tetap berada dalam keadaan sakit.

e)      Meninggal ; Apabila keadaan penyakit bertambah parah dan tak dapat diobati lagi, sehingga berhentinya perjalanan penyakit karena penjamu meninggal dunia. Keadaan ini bukanlah keadaan yang diinginkan.


2.2 Pola Perkembangan  dan Spektrum Penyakit

Spektrum penyakit adalah berbagai variasi tingkatan simptom dan gejala penyakit menurut intensitas infeksi atau penyakit pada penderitanya, dari yang ringan, sedang sampai yang berat dengan komplikasi pada organ-organ vital.

Intensitas infeksi dan derajat penyakit bergantung kepada:

  1. Agent – jenis kuman, jumlah kuman, kualitas (virulensi kuman, toksisitas), kemampuan biologis, dsb.
  2. Host manusia – umur, jenis kelamin, kondisi fisiologis (hormonal),  daya tahan tubuh, genetik, faktor gizi, lingkungan yang melemahkan, dsb

Suatu penyakit (menular) tidak hanya selesai sampai pada jatuh sakitnya seseorang, tetapi cenderung untuk menyebar. Beberapa komponen dalam proses terinfeksinya penyakit ialah sebagai berikut:

  1. Agent
  2. Reservoir
  3. Portals of entry and exit
  4. Mode of transmission
  5. Immunity

Dalam proses perjalanan penyakit, perpindahan agen dari pejamu ke reservoir atau sebaliknya, harus melalui pintu masuk tertentu (portal of entry) calon penderita baru dan kemudian untuk berpindah ke penderita baru lainnya, kuman akan melalui pintu keluar (portal of exit).

Portal of entry/portal of exit, ialah:

  • Melalui konjungtiva, yang biasanya hanya dijumpai pada beberapa penyakit mata tertentu.
  • Melalui saluran nafas (hidung & tenggorokan): melalui droplet sewaktu reservoir/ penderita bicara, bersin, atau batuk atau melalui udara pernapasan.
  • Melalui Pencernaan: baik bersama ludah, muntah maupun bersama tinja.
  • Melalui saluran urogenitalia: biasanya bersama-sama dengan urine atau zat lain yang keluar melalui saluran tersebut.
  • Melalui lukapada kulit ataupun mukosa.
  • Secara mekanik: seperti suntikan atau gigitan pada beberapa penyakit tertentu.

Setelah unsur penyebab telah meninggalkan reservoir maka untuk mendapatkan potensial yang baru, harus berjalan melalui suatu lingkaran perjalanan khusus atau suatu jalur khusus yang disebut jalur penularan (Mode of Transmission). Secara garis besarnya, jalur penularan (Mode of Transimission) dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Penularan langsung: yakni penularan yang terjadi secara langsung dari penderita atau reservoir, ke pejamu potensial yang baru, sedangkan,
  2. Penularan tidak langsung: adalah penularan yang terjadi melalui media tertentu; seperti media udara (air borne), melalui benda tertentu (vechicle borne), dan melalui vektor (vector borne).

2.3 Epidemiological Iceberg

Fenomena gunung es (iceberg phenomenon) merupakan sebuah metafora (perumpamaan) yang menekankan bahwa bagian yang tak terlihat dari gunung es jauh lebih besar daripada bagian yang terlihat di atas air. Artinya, pada kebanyakan masalah kesehatan populasi, jumlah kasus penyakit yang belum diketahui jauh lebih banyak daripada jumlah kasus penyakit yang telah diketahui. Fenomena gunung es menghalangi penilaian yang tepat tentang besarnya beban penyakit (disease burden) dan kebutuhan pelayanan kesehatan yang sesungguhnya, serta pemilihan kasus yang representatif untuk suatu studi. Mempelajari hanya sebagian dari kasus penyakit yang diketahui memberikan gambaran yang tidak akurat tentang sifat dan kausa penyakit tersebut. (Morris, 1975; Duncan, 1987, dikutip Wikipedia, 2010).

2.4 Konsep Tingkat Pencegahan Penyakit (Level of Prevention)

Konsep tingkat pencegahan penyakit ialah mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum kejadian dengan menggunakan langkah‐langkah yang didasarkan pada data/ keterangan bersumber hasil analisis/ pengamatan/ penelitian epidemiologi.

Tingkatan pencegahan penyakit:

a)      Pencegahan tingkat pertama (primary prevention) seperti promosi kesehatan dan pencegahan khusus. Sasarannya ialah faktor penyebab, lingkungan & pejamu. Langkah pencegahaan di faktor penyebab misalnya, menurunkan pengaruh serendah mungkin (desinfeksi, pasteurisasi, strerilisasi, penyemprotan insektisida) agar memutus rantai penularan. Langkah pencegahan di faktor lingkungan misalnya, perbaikan lingkungan fisik agar air, sanitasi lingkungan & perumahan menjadi bersih. Langkah pencegahan di faktor pejamu misalnya perbaikan status gizi, status kesehatan, pemberian imunisasi.

b)      Pencegahan tingkat kedua (secondary prevention) seperti diagnosis dini serta pengobatan tepat. Sasarannya ialah pada penderita / seseorang yang dianggap menderita (suspect) & terancam menderita. Tujuannya adalah untuk diagnosis dini & pengobatan tepat (mencegah meluasnya penyakit/ timbulnya wabah & proses penyakit lebih lanjut/ akibat samping & komplikasi). Beberapa usaha pencegahannya ialah seperti pencarian penderita, pemberian chemoprophylaxis (Prepatogenesis / patogenesis penyakit tertentu).

c)      Pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention) seperti pencegahan terhadap cacat dan rehabilitasi. Sasarannya adalah penderita penyakit tertentu. Tujuannya ialah mencegah jangan sampai mengalami cacat & bertambah parahnya penyakit juga kematian dan rehabilitasi (pengembalian kondisi fisik/ medis, mental/ psikologis & sosial


2.5 Manfaat RAP dalam epidemiologi

Studi tentang RAP merupakan bagian dari studi epidemiologi, dikarenakan terdapat:

a) Studi etiologi — menemukan penyebab

b) Studi prognostik — mempelajari faktor risiko dan perkiraan akhir penyakit

c) Studi intervensi — mengetahui effectiveness , dan efficiency program pemberantasan dan pencegahan penyakit.

Dari RAP diperoleh beberapa informasi penting:

  • Masa inkubasi atau masa latent.
  • Kelengkapan keluhan (symptom) sebagai bahan onformasi dama menegakkan diagnosis
  • Lama dan beratnya keluhan yang dialami oleh penderita kejadian penyakit menurut musim (season) kapan penyakit itu lebih frekuen kejadiannya
  • Kecenderungan lokasi geografis serangan penyakit sehingga dapat dengan mudah dideteksi lokasi kejadian penyakit.
  • Untuk diagnostik: masa inkubasi dapat dipakai sebagai pedoman penentuan jenis penyakit.
  • Sifat-sifat biologis kuman patogen sehingga menjadi bahan informasi untuk pencegahan penyakit.
  • Untuk pencegahan: dengan mengetahui kuman patogen penyebab dan rantai perjalanan penyakit dapat dengan mudah ditemukan titik potong yang penting dalam upaya pencegahan penyakit.
  • Untuk terapi: intervensi atau terapi hendaknya diarahkan pada fase paling awal. Lebih awal terapi akan lebih baik hasil yang diharapkan. Keterlambatan diagnosis akan berkaitan dengan keterlambatan terapi.

3.1 Kesimpulan

Studi RAP merupakan bagian dari ilmu epidemiologi. RAP atau Riwayat Alamiah Penyakit menjelaskan bagaimana suatu penyakit dapat terinfeksi dan tersebar dalam tubuh manusia, dengan adanya masa inkubasi yang berbeda dari berbagai macam penyakit maka kita dapat memprediksi pencegahan penyakit tersebut agar tidak terlampau parah dan tersebar luas. Memperhatikan beberapa faktor baik faktor penyebab dan risiko maka kami penyusun melihat adanya hubungan sebab akibat yang terjadi di antara keduanya. Kita dapat melakukan tahap pencegahan penyakit atau level of prevention jika kita mengetahui dengan jelas bagaimana riwayat suatu penyakit tercebut dapat terjadi, dan kita bisa mengetahui teknik atau pengobatan apa yang sesuai bagi penyakit tersebut.

3.2 Daftar Pustaka

  1. Bustan mn. 2002. Pengantar epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta.
  2. Gerstman. 2003. Epidemiology Kept Simple. California: Willey Liss.
  3. Juwono, Sugeng. Riwayat Alamiah, Spektrum, Rantai Infeksi dan Kejadian Epidemik Penyakit. 2011
  4. Lalusu, Yusnita Erni. Pengantar epidemiologi. 2011
  5. 5. Murti, Bisma. Modul Perkuliahan Fakultas Kedoketran  UNS.

YANG MAU AMBIL JADI REFERENSI TOLONG CATAT SUMBER NYA YAAAHHH…PENTINGGGGG…… ^^

STRES

Dear kawan semua…semua orang pasti pernah dong ngerasain apa yang namanya stres..nah ngomong-ngomong tentang stres… apa bedanya menderita dengan penderitaan…yup…setiap orang pernah mengalami penderitaan tapi tergantung apakah orang tersebut bisa menerima dengan ikhlas atau tidak penederitaan itu..kalo bisa berarti dia tidak menderita, namun sebaliknya ornag yang tidak pernah bersyukur dan tidak pernah ikhlas dia selalu merasa menderita.,..

okay berikut adalah cuplikan tentang apa yang disebut stres..ini merupakan kesimpulan yang aku buat dari buku refrensi yang cukup oke…heheheh…namanya Health Psychology…^^

Stres dibagi menjadi 3 kelompok, yakni:

  1. Stres sebagai stimulus, terfokus pada kejadian atau suatu peristiwa yang mengakibatkan stres itu sendiri.
  2. Stres sebagai respon, mengacu pada keadaan stres dan reaksinya.
  3. Stres sebagai proses adanya interaksi terus menerus dan penyesuaian antara orang dan lingkungan.

Jadi, stres didefinisikan sebagai hasil suatu kondisi ketika seseorang/lingkungan merasa adanya ketidakcocokan di antara situasi yang dituntut (terjadi) dan sumber daya orang tersebut baik secara biologis, psikologis, dan sosial.

Kondisi stres itu sendiri pada umumnya melibatkan proses penilaian kognitif dalam 2 bentuk, yakni:

  1. Primary Appraisal, berfokus pada apakah suatu tuntutan dapat mengancam kesejahteraan seseorang. Misalnya tuntutan tersebut tidak relevan atau baik untuk masa masa depannya karena ada ancaman, kerugian, atau tantangan.
  2. Secondary Appraisal, berfokus pada penilaian sumber daya yang tersedian untuk memenuhi suatu tuntutan.

Ketika Primary Appraisal dan Secondary Appraisal mengindikasikan bahwa adanya kesesuaian antara tuntutan dan sumber daya, di saat itulah stres mungkin terjadi namun dalam ukuran relatif kecil. Tapi ketika di saat adanya perbedaan antara tuntutan dan sumber daya, seperti tuntutan lebih besar dibanding sumber daya yang dimiliki maka stres dalam ukuran besar dapat terjadi.

Peristiwa yang disebut stres itu sendiri dipengaruhi 2 faktor, yakni:

  1. Dipengaruhi oleh orang (personal), misalnya karakteristik intelektual, motivasi, kepribadian, harga diri, dan sistem kepercayaan.
  2. Dipengaruhi oleh situasi (situasional), misalnya ada tuntutan yang kuat, tidak diinginkan, tidak terkendali dan datang pada waktu yang tidak terduga dalam kehidupan.

Stres menghasilkan ketegangan di dalam diri seseorang baik biologis, psikologis dan sosialnya. Saat stres itu terasa kuat dan berkepanjangan maka munculah reaksi fisiologis dalam 3 tahap yang disebut sindrom adaptasi umum (tahap khawatir/alarm reaction, tahap perlawanan/ resistance reaction, tahap kelelahan/ exhaustion reaction). Dan stres tingkat tinggi dapat mengakibatkan beberapa penyakit seperti tekanan darah tinggi.

Stres dapat mempengaruhi proses psikososial dan dapat mempengaruhi fungsi kognitif. Ada beberapa emosi yang menyertai stres, sepeti ketakutan, kecemasan, depresi, dan kemarahan sampai perilaku agresif.

Sumber stres dapat berkembang dan dapat timbul dari mana saja, seperti seseorang yang mengalami sakit ataupun mempunyai konflik. Bahkan stres dapat timbul dari hubungan perilaku keluarga, misalnya ketika salah satu keluarganya sakit parah kemudian meninggal, keluarga broken home (orang tua yang bercerai), dsb.

Stres dapat diukur dalam 3 cara, pertama lewat fisiologis dalam tubuh dengan mengukur tekanan darah, denyut jantung ataupun laju respirasi, kedua ialah lewat survei akan peristiwa kehidupan seseorang, dan yang ketiga ialah dengan cara menghitung atau memperkirakan pengalaman konflik seseorang. Meskipun stres dapat mempengaruhi perkembangan suatu penyakit, namun banyak psikolog percaya bahwa tidak semua stres berbahaya.

OBAT GENERIK

Latar Belakang Masalah

Dewasa ini banyak sekali masalah kesehatan masyarakat yang timbul di Indonesia akibat perilaku masyarakat yang semakin kompleks. Faktor pelayanan kesehatan dari pemerintah sangat menentukan pemecahan solusi yang tepat bagi penangan permasalahan tersebut. Program obat generik merupakan salah satu terobosan yang dikeluarkan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut. Pemerintah mencanangkan program obat generik dengan maksud untuk memberikan kemudahan dalam akses pelayanan kesehatan masyarakat, karena telah disadari bahwa tingkat perekonomian dan daya beli masyarakat rendah. Di samping itu, tujuan dicanangkannya obat generik ialah untuk memberikan alternatif obat yang terjangkau dan berkualitas kepada masyarakat.

Ironis memang ketika ditemukan sejumlah bukti bahwa pelaksanaan program obat generik tidaklah semudah apa yang dicanangkan pemerintah selama ini. Banyak faktor yang justru menimbulkan masalah baru dalam pelaksanaan program obat generik.  Masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui apa itu obat generik, dan perbedaannya dengan obat yang lainnya.

Masyrakat masih menganggap mana mungkin ada obat yang berkhasiat dengan harga yang murah. Banyak masyarakat yang tidak mengerti tentang obat dan kualitasnya. Ketika mendengar obat generik, umumnya orang akan langsung mengasumsikannya sebagai obat kelas dua, artinya mutunya kurang bagus. Obat generik pun kerap dicap obat bagi kaum tak mampu. Betulkah asumsi ini?[1]

Kurangnya informasi seputar obat generik merupakan salah satu faktor penyebab obat generik dipandang sebelah mata. Padahal dengan beranggapan demikian, selain merugikan pemerintah, pihak pasien sendiri menjadi tidak efisien dalam membeli obat. Membeli obat tidaklah bisa disamakan dengan membeli barang rumah tangga. Umumnya harga barang rumah tangga sebanding dengan kualitasnya, di mana semakin mahal harganya maka semakin bagus kualitasnya.

Edukasi ke masyarakat mengenai obat generik menjadi perlu dan wajib untuk dilakukan.Sosialisasi yang digencarkan pemerintah sepertinya belum mengena di masyrakat luas.

Di samping itu harga dari obat generik juga menjadi permasalah dalam pelaksanaan program obat generik yang diagungkan pemerintah. Karena pemerintah dituntut untuk dapat menyediakan obat yang berkualitas dengan harga yang murah.

Berdasarkan penjelasan dalam latar belakang masalah tersebut di atas, maka pembahasannya dapat difokuskan dalam 6 permasalahan yaitu sebagai berikut :

  1. Kualitas obat generik masih diragukan.
  2. Krisis kepercayaan yang menimpa masyarakat dalam penggunaan obat generik.
  3. Ketidakpahaman masyarakat tentang obat generik.
  4. Kurangnya sosialisasi dari pemerintah dan tenaga medis tentang obat generik.
  5. Program obat generik belum diterapkan secara maksimal.
  6. Ketersediaan obat generik berkualitas dan penentuan harga yang tepat masih diragukan.

Penulisan karya tulis ini disusun dengan tujuan:

  1. Untuk meneliti apa yang menjadi penyebab kekurang efektifannya program obat generik.
  2. Untuk mengetahui kualitas yang terkandung dalam obat generik.
  3. Untuk mengevaluasi peranan pemerintah, dinas kesehatan yang terkait ataupun tenaga medis dalam pelaksanaan program obat generik.
  4. Untuk memberi solusi yang tepat terhadap pelaksanaan program obat generik.

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Obat Generik

Obat generik adalah obat yang telah habis masa patennya, sehingga dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa perlu membayar royalti. Ada dua jenis obat generik, yaitu obat generik bermerek dagang dan obat generik berlogo yang dipasarkan dengan merek kandungan zat aktifnya. Dalam obat generik bermerek, kandungan zat aktif itu diberi nama (merek). Zat aktif amoxicillin misalnya, oleh pabrik ”A” diberi merek ”inemicillin”, sedangkan pabrik ”B” memberi nama ”gatoticilin” dan seterusnya, sesuai keinginan pabrik obat. Dari berbagai merek tersebut, bahannya sama: amoxicillin.[2]

Menurut DR. Dr. Fachmi Idris, M.Kes, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) periode 2006-2009, secara internasional obat hanya dibagi menjadi menjadi 2 yaitu obat paten dan obat generik.

Obat paten adalah obat yang baru ditemukan berdasarkan riset dan memiliki masa paten yang tergantung dari jenis obatnya. Menurut UU No. 14 Tahun 2001 masa berlaku paten di Indonesia adalah 20 tahun.

Selama 20 tahun itu, perusahaan farmasi tersebut memiliki hak eksklusif di Indonesia untuk memproduksi obat yang dimaksud. Perusahaan lain tidak diperkenankan untuk memproduksi dan memasarkan obat serupa kecuali jika memiliki perjanjian khusus dengan pemilik paten.

Setelah obat paten berhenti masa patennya, obat paten kemudian disebut sebagai obat generik (generik= nama zat berkhasiatnya). Nah, obat generik inipun dibagi lagi menjadi 2 yaitu generik berlogo dan generik bermerk (branded generic).

Tidak ada perbedaan zat berkhasiat antara generik berlogo dengan generik bermerk. “Bedanya, yang satu diberi merk, satu lagi diberi logo” ungkap DR. Dr. Fachmi Idris, M.Kes.

Obat generik berlogo yang lebih umum disebut obat generik saja adalah obat yang menggunakan nama zat berkhasiatnya dan mencantumkan logo perusahaan farmasi yang memproduksinya pada kemasan obat, sedangkan obat generik bermerk yang lebih umum disebut obat bermerk adalah obat yang diberi merk dagang oleh perusahaan farmasi yang memproduksinya.[3]

2.2 Sejarah Obat Generik di Indonesia

Obat Generik Berlogo (OGB) diluncurkan pada tahun 1991 oleh pemerintah yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kelas menengah ke bawah akan obat. Jenis obat ini mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang merupakan obat esensial untuk penyakit tertentu.

Harga obat generik dikendalikan oleh pemerintah untuk menjamin akses masyarakat terhadap obat. Oleh karena itu, sejak tahun 1985 pemerintah menetapkan penggunaan obat generik pada fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah.

Harga obat generik bisa ditekan karena obat generik hanya berisi zat yang dikandungnya dan dijual dalam kemasan dengan jumlah besar, sehingga tidak diperlukan biaya kemasan dan biaya iklan dalam pemasarannya. Proporsi biaya iklan obat dapat mencapai 20-30%, sehingga biaya iklan obat akan mempengaruhi harga obat secara signifikan.

Mengingat obat merupakan komponen terbesar dalam pelayanan kesehatan, peningkatan pemanfaatan obat generik akan memperluas akses terhadap pelayanan kesehatan terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah.[4]

2.3 Landasan Hukum

Menurut dr. Marius Widjajarta, SE, UU No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen telah menguraikan apa yang menjadi hak-hak seorang pasien, antara lain:

  1. Hak untuk informasi yang benar, jelas dan jujur.
  2. Hak untuk jaminan kemanan dan keselamatan.
  3. Hak untuk ganti rugi.
  4. Hak untuk memilih.
  5. Hak untuk didengar.
  6. Hak untuk mendapatkan advokasi.
  7. Hak-hak yang diatur oleh perundang-undangan.

Perlindungan hak pasien juga tercantum dalam pasal 32 Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, yaitu:

a)     memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di

Rumah Sakit;

b)     memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien;

c)     memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi;

d)     memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar

profesi dan standar prosedur operasional;

e)     memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar

dari kerugian fisik dan materi;

f)     mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan;

g)     memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan

peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;

Pasien mempunyai hak untuk memilih pengobatan dan memilih dokter. Jadi, hendaknya pasien meminta obat generik ketika berobat ke dokter dan ingatkan dokter bahwa jika dokter tidak memberikan informasi yang benar, jujur dan jelas maka dokter bisa melanggar UU No. 8 tahun 1999.

Sebagaimana penjelasan tentang sub sistem upaya kesehatan dan sediaan farmasi dalam Sistem Kesehatan Nasional juga mempertegas bahwa pasien berhak menerima upaya kesehatan dengan didukung oleh ketersediaan obat yang berkualitas baik dengan harga yang terjangkau.

BAB III

METODE PENULISAN

Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, penyusun menggunakan metode deskriptif dan induktif. Menganalisis data yang ada yang bersumber dari artikel-artikel tentang temuan fakta di lapangan, browsing di internet maupun literatur-literatur yang berhubungan dengan penulisan karya tulis ini.

Membahas secara deskriptif temuan-temuan yang ada secara umum atau universal,  kemudian dibahas secara spesifik dan lebih khusus tentang permasalahan yang timbul di masyarakat terhadap pelaksanaan program obat generik, dan membantu menemukan solusi permasalahan tersebut dengan mencoba melibatkan fungsi dan peranan pemerintah serta dinas kesehatan terkait.

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN MASALAH

4.1 Kualitas Obat Generik

Berbicara mengenai obat generik tidaklah terlepas dari wacana tentang kualitas dan khasiatnya. Orang sering mengira bahwa mutu obat generik kurang dibandingkan obat bermerk. Harganya yang terbilang murah membuat masyarakat tidak percaya bahwa obat generik sama berkualitasnya dengan obat bermerk. Padahal generik atau zat berkhasiat yang dikandung obat generik sama dengan obat bermerk. “Orang kan makan generiknya bukan merknya, karena yang menyembuhkan generiknya,” ungkap dr. Marius Widjajarta, SE.

Mutu obat generik tidak berbeda dengan obat paten karena bahan bakunya sama. Ibarat sebuah baju, fungsi dasarnya untuk melindungi tubuh dari sengatan matahari dan udara dingin. Hanya saja, modelnya bajunya beraneka ragam. Begitu pula dengan obat. Generik kemasannya dibuat biasa, karena yang terpenting bisa melindungi produk yang ada di dalamnya. Namun, yang bermerek dagang kemasannya dibuat lebih menarik dengan berbagai warna. Kemasan itulah yang membuat obat bermerek lebih mahal.

Kualitas obat generik yang disebut ´tidak genit tapi menarik´ oleh dr. Marius ini tidak kalah dengan obat bermerk karena dalam memproduksinya perusahaan farmasi bersangkutan harus melengkapi persyaratan ketat dalam Cara-cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang dikeluarkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Selain itu juga ada persyaratan untuk obat yang disebut uji Bioavailabilitas/Bioekivalensi (BA/BE). Obat generik dan obat bermerk yang diregistrasikan ke BPOM harus menunjukkan kesetaraan biologi (BE) dengan obat pembanding inovator. Inovator yang dimaksud adalah obat yang pertama kali dikembangkan dan berhasil muncul di pasaran dengan melalui serangkaian pengujian, termasuk pengujian BA. Studi BA dan atau BE seharusnya telah dilakukan terhadap semua produk obat yang berada di pasaran baik obat bermerk maupun obat generik. “Namun, pemerintah dalam hal ini BPOM masih fokus pada pelaksanaan CPOB,” ungkap DR. Dr. Fachmi Idris, M.Kes.[5]

Obat dibuat dari bahan-bahan tertentu, yang setelah diteliti sekian lama, ditemukan “zat inti berkhasiat terapetik”. Zat ini yang secara umum disebut “generik”. Setelah disetujui oleh otoritas kesehatan, dari bahan generik ini, bisa dibuat “obat generik”. Respon terapetik dapat diartikan sebagai hasil kerja obat hingga mencapai efek yang diinginkan dari penggunaan obat tersebut.

Permasalahannya ialah obat generik hanya mengandung salah satu manfaat dari yang dikehendakinya saja. Berbeda dengan obat paten yang harganya mahal biasanya bersifat multifunction. Beberapa contoh nama obat generik yang berdedar di masyarakat paracetamol, gliserilguaiakolat, dekstrometorfan, difenhidramin, chlorpheniramin maleat (CTM), amoksisilin, eritromisin, gentamisin. Jadi tidak heran, jika seorang pasien penderita flu berat diberikan obat generik oleh sang dokter maka ia harus meminum banyak jenis obat tersebut, berbeda halnya dengan pasien dengan keluhan yang sama meminum obat paten yang harganya jauh di atas obat generik ia hanya cukup minum beberapa obat saja. Di samping itu obat generik hanya meningkatkan ambang batas kesakitan saja karena sifatnya yang terapetik. Namun itu semua kembali ke sistem imun tubuh seseorang dalam melawan virus penyakit yang menyerang.

4.2 Paradigma Masyarakat

Seperti yang telah dibahas di sub bab sebelumnya, bahwa sebenarnya obat generik memiliki kualitas yang sama dan cukup baik dengan obat lainnya, hanya yang membedakan sifat obatnya saja. Namun untuk masalah khasiat obat generik mempunyai khasiat yang sama dengan obat jenis lainnya. Tapi fakta yang ditemukan ialah kebanyakan masyarakat belum percaya bahwa obat generik memiliki khasiat yang sama dengan obat lainnya. Mereka masih berpikir mana mungkin ada obat dengan harga yang murah namun memiliki kualitas yang bagus.

Banyak cerita yang ditemukan di lapangan bahwa beberapa kasus, pasien tidak mengalami kesembuhan yang cepat ketika dia mengkonsumsi obat generik, namun ketika dia beralih ke obat paten yang harganya jauh di atas obat generik ia langsung merasakan kesembuhan. Sebenarnya untuk masalah kesembuhan dipengaruhi oleh sistem imun tubuh dan sugesti seseorang dalam melawan penyakitnya. Seperti misalnya sugesti bahwa obat generik tidaklah manjur, maka menurut ilmu psikologi itu akan mempengaruhi motivasi dan emosi seseorang dalam menjalani proses kesembuhannya dan itu tidaklah mereka sadari, begitupun sebaliknya.

4.3 Ketidakpahaman Masyarakat Karena Kurangnya Sosialisasi

“Buat apa beli mereknya, yang penting khasiatnya” kata sebuah iklan dalam mempromosikan obat generik. Namun persepsi masyarakat terhadap obat generik tidak jauh berubah. Masyarakat tetap menganggap bahwa obat generik adalah obat kelas bawah dan bermutu rendah. Sebaliknya mereka berpendapat bahwa obat paten adalah obat yang sangat bagus mutunya bila dibandingkan dengan obat generik.

Pandangan masyakat yang memandang obat paten sebagai obat bagus tentu tidaklah sepenuhnya salah, tetapi menganggap obat generik sebagai obat kelas bawah dan bermutu rendah inilah yang tidak benar. Pandangan rendah terhadap obat generik jelas menimbulkan masalah dalam pelayanan kesehatan di tanah air.

Salah satu penyebabnya adalah penggunaan istilah ‘obat paten’ yang salah di masyarakat, serta telah mengalami pergeseran makna. Istilah ‘obat paten’ bagi masyarakat di Indonesia langsung dikaitkan dengan kualitasnya, karena kata-kata ‘paten’ dalam keseharian masyarakat bermakna ‘top’ atau ‘paling bagus.’ Sehingga secara langsung memandang obat paten adalah obat paling bagus dan sebaliknya obat generik adalah obat berkualitas rendah.[6]

Kondisi ini menyebabkan banyak orang yang tidak mampu membeli obat, penyakitnya tidak bisa terobati karena lebih mempercayai obat paten. Kurangnya informasi seputar obat generik adalah salah satu faktor penyebab obat generik dipandang sebelah mata. Padahal dengan beranggapan demikian, selain merugikan pemerintah, pihak pasien sendiri menjadi tidak efisien dalam membeli obat.

Pandangan rendah masyarakat terhadap obat generik ini diperparah oleh dokter pada preaktek pribadi dan pelayanan swasta yang hampir tidak pernah memberikan informasi apalagi memberikan resep obat generik tersebut. Akhirnya menjadi asumsi bahwa obat generik adalah obat yang berkualitas rendah karena jarang disarankan oleh dokter.
Dengan memandang rendah mutu obat generik, masayarakat atau pasien merasa tidak puas terhadap pelayanan kesehatan bila mendapat obat generik. Masyarakat menganggap pengobatan yang diberikat bukanlah pelayanan maksimal.

Pandangan rendah ini juga berimbas kepada pandangan masyarakat pada pengobatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Puskesmas yang menyediakan pelayanan kesehatan terdepan dengan memberikan obat generik dianggap sebagai tempat berobat masyarakat kelas bawah. Puskesmas yang seharusnya menjadi pusat pelayan kesehatan menyeluruh mulai kedokteran pencegahan dan pengobatan tidak dapat berjalan dengan baik.

Masyarakat yang mempunyai biaya yang cukup untuk berobat lebih cenderung untuk berobat langsung ke dokter spesialis atau ke rumah sakit besar, meskipun penyakitnya hanya pegal-pegal atau batuk pilek biasa. Pada sebagian masyarakat, perilaku dan gaya berobat seperti ini merupakan suatu ‘prestise’ dan sebaliknya mereka ‘gengsi’ untuk berobat ke Puskesmas.

Pada kelompok masyarakat yang mempunyai Asuransi Kesehatan (Askes) yang harus mendapatkan rujukan untuk berobat ke Rumah Sakit (RS) besar tidak jarang datang ke Puskesmas bukan untuk menceritakan keluhannya, tetapi datang langsung untuk meminta surat rujukan. Mereka menilai berobat ke ke RS adalah hak mereka.

Padahal jika kasus yang dirujuk bukanlah penyakit yang membutuhkan pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut justru akan merugikan pasien itu sendiri, karena dengan banyaknya kasus dan kunjungan di RS, dokter akan lebih fokus pada kasus-kasus tingkat lanjut. Juga, pengobatan yang didapat di RS juga tidak akan jauh berbeda dengan di Puskesmas yang mungkin hanya dengan ‘merek’ obat yang berbeda.

Oleh karena itu, untuk mengubah citra kurang baik pada obat generik dan Puskesmas harus dilakukan upaya menyeluruh mulai dari pendidikan terhadap masyarakat tentang obat dan pelayanan kesehatan, perilaku petugas kesehatan, hingga kebijakan pelayanan.

Salah satu usaha untuk memperbaiki pandangan masyarakat terhadap obat generik dan Puskesmas adalah melalui penyuluhan. Masyarakat harus diberikan pemahaman tentang apa dan bagaimana obat generik itu sebenarnya. Bahkan harus diusahakan dapat memasyarakatkan penggunaan istilah ‘obat bermerek’ sebagai pengganti istilah obat paten.

Sebagaimana tugas dan fungsi puskesmas dalam melaksanakan Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD) ialah:

  1. 1. Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan
  2. 2. Pusat Pemberdayaan Masyarakat
  3. 3. Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama

Puskesmas diharapkan dapat membina dan memberikan sosialisasi terhadap masyarakat tentang kegunaan obat generik yang sebenarnya. Tidak lupa dibantu dengan Dinas Kesehatan terkait yang saling bekerja sama dengan puskesmas dan para tenaga medis yang saling terintegrasi di dalamnya.

Memang ada beberapa obat yang hanya dipasarkan dengan nama dagang tertentu, tetapi biasanya obat ini adalah untuk penatalaksanaan penyakit tingkat lanjut. Harus diakui juga, ada beberapa keuntungan berobat dengan obat bermerek bila obat tersebut merupakan obat kombinasi, karena bila dengan obat generik tentu harus mengkonsumsi lebih dari satu macam obat.

Namun memandang rendah obat generik adalah suatu kesalahan. Bahkan bila penyakit hanya membutuhkan obat tertentu maka memberikan obat tunggal (non kombinasi) dan obat generik adalah pilihan yang tepat.

Para pelayan kesehatan terutama pada pusat pelayan kesehatan swasta juga harus memberikan informasi yang benar, objektif dan jelas tentang obat generik pada pasien, dan pasien juga seharusnya dapat menentukan pilihan untuk mendapatkan obat generik.

Selanjutnya, semua komponen masyarakat mulai dari pejabat, anggota dewan, hingga rakyat biasa harus memahami dan menghargai pelayanan kesehatan kepada Puskesmas. Puskesmas harus dihargai sebagai pelayanan kesehatan terdepan bukan hanya bagi masyarakat berekonomi lemah.

4.4 Ketersediaan, Distribusi dan Harga Obat Generik

Menurut berita yang dilansir oleh Metronews.com; Pemerintah melonggarkan aturan distribusi obat generik dengan memperbolehkan pabrik obat dan atau pedagang besar farmasi (PBF) menambahkan biaya distribusi pada harga obat generik yang disalurkan ke daerah di luar Pulau Jawa dan Bali. Ketentuan itu tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.03.01/Menkes/146/I/2010 tanggal 27 Januari 2010 tentang harga obat generik.

PBF yang mendistribusikan obat generik ke daerah regional I termasuk DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Lampung dan Banten, tidak boleh menambahkan biaya distribusi ke harga obat. Penambahan biaya distribusi hanya diperbolehkan pada penyaluran obat generik ke daerah-daerah yang berada pada regional II, III dan IV.

Untuk regional II mencakup Pulau Sumatra, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung dan Nusa Tenggara Barat, dapat menambahkan biaya distribusi maksimum lima persen. Sementara untuk di regional III seperti Nanggroe Aceh Darussalam, Kalimantan, dan Sulawesi dapat menambahkan biaya distribusi maksimal 10 persen.[7]

Kementerian Kesehatan telah menerbitkan peraturan baru tentang peresepan dan distribusi obat generik untuk menggalakkan penggunaan obat generik dalam pelayanan kesehatan publik. Hal itu dilakukan karena tingkat penggunaan obat generik belum sesuai harapan. Bahkan menurut catatan Kementerian Kesehatan, penggunaan obat generik mengalami penurunan bermakna dalam beberapa tahun terakhir.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, dalam lima tahun terakhir pasar obat generik turun dari Rp 2,525 triliun (10% dari pasar obat nasional) menjadi Rp 2,372 triliun (7,2% dari pasar obat nasional). Padahal pasar obat nasional meningkat dari Rp 23,590 triliun pada 2005 menjadi Rp 32,938 triliun tahun 2009. Ketersediaan obat esensial generik di sarana pelayanan kesehatan juga baru mencapai 69,74% dari target 95%. Meski tingkat peresepan obat generik di Puskesmas sudah mencapai 90%, namun tingkat peresepan obat generik di rumah sakit umum masih 66% sementara di rumah sakit swasta dan apotek hanya 49%.[8]

Jadi, Untuk sehat tidak harus dengan obat mahal. Dan obat generik bukan obat murahan, tetapi obat yang dijual dengan harga tidak mahal.

SEHAT KETIKA MAKAN

sehat ketika makanDear kawan semua…

Berikut adalah beberapa tips sehat ketika makan, mungkin bila kawan-kawan semua ingin tetap ideal dengan pola makan yang sehat ^^

  1. Makanlah dengan teratur, makan secukupnya secara teratur lebih baik dibanding makan banyak dengan waktu yang tak tentu… (mending makan 3x sehari walau sedikit setiap makan, dari pada makan jarang-jarang tetapi dengan porsi untuk 3 orang sekali makan..^^) Ini dapat menjaga asam lambung yang ada di perut kita, dan dapat terhindar dari bahaya penyakit maag, ini juga efektif untuk menjaga berat badan yakni diet alami
  2. Pilihlah menu makan secara seimbang, yakni cukup sayur, buah (walau hanya pisang), dan lauk pauk yang berprotein (tempe tahu misalnya), dan jangan ketinggalan untuk membiasakan diri meminum susu.
  3. Kunyahlah makan dengan cukup kunyahan, misalnya 32 kali kunyahan sebelum ditelan, ini bertujuan untuk mengoptimalkan kerja enzim yang ada di mulut kita lho yakni enzim ptyalin…. dan cobalah.. anda akan merasa cepat kenyang…subhanallah hebat bukan…Bahkan beberapa penelitian terbaru cara ini efektif menjaga berat badan lhoooo…..
  4. Jangan minum ketika makan, jika haus atau tersedak, minum air seteguk saja. Minumlah air paling tidak 15 – 30 menit sebelum atau sesudah makan ini bertujuan untuk mengefektifkan enzim yang sedang bekerja.
  5. Ada penemuan baru bahwa makanlah buah sebelum kita makan berat (nasi,daging,dsb).
  6. Jangan berbicara atau mengobrol ketika makan, karena itu akan mengganggu sekali dan kawan semua bisa tersedak, dan taukah kawan bahwa pada saat makan dan ketika berbicara katup yang ada di dalam tubuh kita punya katup yang berbeda, jadi hindarilah berbicara ketika makan.

 

 

Okaaay.,…semoga bermanfaat silakan di coba,,,,,,,,,, ^^

Salam Manis…..

PENGGOLONGAN DAN KLASIFIKASI HADITS

Secara konsepsional bahwa hadits itu dari satu segimdapat dibagi menjadi dua, yaitu kuantitas dan kualitas. Yang dimaksud segi kuantitasnya adalah penggolongan hadits ditinjau dari banyaknya rowi yang meriwayatkan hadits. Sedangkan hadits berdasarkan kualitasnya adalah penggolongan hadits dilihat dari aspek diterimanya atau ditolaknya.

2.1 Penggolongan Hadits Berdasarkan Banyaknya Rawi

Para sahabat dalam menerima hadits dari Nabi Muhammad SAW. Terkadang berhadapan langsung dengan sahabat yang jumlahnya sangat banyak karena pada saat nabi sedang memberikan khutbah di hadapan kaum muslimin, kadang hanya beberapa sahabat bahkan juga bisa terjadi hanya satu atau dua orang sahabat saja. Demikian itu terus terjadi dari sahabat ke tabi’in sampai pada generasi yang menghimpun hadits dalam berbagai kitab. Dan sudah barang tentu informasi yang dibawa oleh banyak rowi lebih meyakinkan apabila dibandingkan dengan informasi yang dibawa oleh satu atau dua orang rowi saja. Dari sinilah para ahli hadits membagi hadits menurut jumlah rowinya 1.

2.1.1. Hadits Mutawatir
Kata mutawatir Menurut lughat ialah mutatabi yang berarti beriring-iringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain 2. Hadits mutawatir merupakan hadits yang diriwayatkan oleh banyak orang dalam setiap generasi, sejak generasi shahabat sampai generasi akhir (penulis kitab), orang banyak tersebut layaknya mustahil untuk berbohong 3. Tentang seberapa banyak orang yang dimaksud dalam setiap generasi belum terdapat sebuah ketentuan yang jelas.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hadits mutawatir adalah laporan dari orang-orang yang jumlahnya tidak ditentukan (la yusha ‘adaduhum) yang tidak mungkin mereka bersepakat untuk berbuat dusta mengingat jumlah mereka yang besar (‘adalah) dan tempat tinggal mereka yang beragam 4.

Sebagian besar ulama sepakat bahwa hadist mutawatir menimbulkan konsekuensi hukum dan pengetahuan yang positif (yaqin) dan orang yang menyangkalnya dianggap berbelit akalnya dan tidak bermoral 5. Ulama telah menyepakti bahwa hadits ini dapat dijadikan hujjah baik dalam bidang aqidah maupun dalam bidang syari’ah 6.

Hadits mutawatir memberikan faedah ilmu daruri, yakni keharusan untuk menerimanya secara bulat sesuatu yang diberitahukan mutawatir karena ia membawa keyakinan yang qath’i (pasti), dengan seyakin-yakinnya bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar menyabdakan atau mengerjakan sesuatu seperti yang diriwayatkan oleh rawi-rawi mutawatir 7.

Dapat dikatakan bahwa penelitian terhadap rawi-rawii hadits mutawatir tentang keadilan dan kedlabitannya tidak diperlukan lagi, karena kuantitas rawi-rawinya mencapai ketentuan yang dapat menjamin untuk tidak bersepakat dusta. Oleh karenanya wajib bagi setiap muslim menerima dan mengamalkan semua hadits mutawatir. Umat Islam telah sepakat tentang faedah hadits mutawatir seperti tersebut di atas dan bahkan orang yang mengingkari hasil ilmu daruri dari hadits mutawatir sama halnya dengan mengingkari hasil ilmu daruri yang berdasarkan musyahailat (pelibatan pancaindera).

Sebuah hadits dapat digolongkan ke dalam hadits mutawatir apabila memenuhi beberapa syarat. Adapun persyaratan tersebut antara lain adalah sebagai berikut 8 :

1. Hadits (khabar) yang diberitakan oleh rawi – rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan (daya tangkap) pancaindera. Artinya bahwa berita yang disampaikan itu benar – benar merupakan hasil pemikiran semata atau rangkuman dari peristiwa – peristiwa yang lain dan yang semacamnya, dalam arti tidak merupakan hasil tanggapan pancaindera (tidak didengar atau dilihat) sendiri oleh pemberitanya, maka tidak dapat disebut hadits mutawatir walaupun rawi yang memberikan itu mencapai jumlah yang banyak.
2. Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat mustahil untuk berdusta. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang batasan jumlah untuk tidak memungkinkan bersepakat dusta
Abu Thayib menentukan sekurang – kurangnya 4 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim 9.
Ashabus Syafii menentukan minimal 5 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah para Nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi.
Sebagian ulama menetapkan sekurang – kurangnya 20 orang. Hal tersebut berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah SWT tentang orang – orang mukmin yang tahan uji, yang dapat mengalahkan orang – orang kafir sejumlah 200 orang.
Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang – kurangnya 40 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan firman Allah QS Al Anfal ayat 64.
3. Seimbang jumalah para perawi, sejak dalam tabaqat (lapisan/ tingkatan) pertama maupun tabaqat berikutnya. Hadits mutawatir yang memenuhi syarat- syarat seperti ini tidak banyak jumlahnya, bahkan Ibnu Hibban dan Al – Hazimi menyatakan bahwa hadits mutawatir tidak mungkin terdapat karena persyaratan yang demikian ketatnya 10.

DR. Syamssuddin Arif menyimpulkan bahwa sebuah khabar dapat disebut mutawatir apabila memenuhi syarat sebagai berikut 11:
1. Nara sumbernya harus benar-benar mengetahui apa yang mereka katakannya, sampaikan dan laporkan. Jadi tidak boleh menduga-duga atau apalagi meraba-raba.
2. Mereka harus mengetahui secara pasti dalam arti pernah melihat, menyaksikan,mengalami, dan mendengarnya secara langsung tanpa disertai distorsi, ilusi, dan semacamnya.
3. Jumlah nara sumbernya cukup banyak sehingga tidak mungkin suatu kekeliruan atau kesalahan dibiarkan atau lolos tanpa koreksi.

Hadits Mutawatir ada 2 yaitu :

1. Mutawatir Lafdzi yaitu mutawatir redaksinya.
Contoh Hadits Mutawatir Lafzi :
“Rasulullah SAW berkata, “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersedia menduduki tempat duduk di neraka.”

Menurut Abu Bakar Al-Bazzar, hadits tersebut diatas diriwayatkan oleh 40 orang sahabat, kemudian Imam Nawawi dalam kita Minhaju al-Muhadditsin menyatakan bahwa hadits itu diterima 200 sahabat 12.
2. Mutawatir Ma’nawi yaitu hadits yang isi serta kandungannyadiriwayatkan secara mutawatir dengan redaksi yang berbeda-beda 13.
Contoh hadits mutawatir maknawi adalah :
“Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doa-doanya selain dalam doa salat istiqa’ dan beliau mengangkat tangannya, sehingga nampak putih-putih kedua ketiaknya.” (HR. Bukhari Muslim)

Hadis yang semakna dengan hadis tersebut di atas ada banyak, yaitu tidak kurang dari 30 buah dengan redaksi yang berbeda-beda. Antara lain hadis-hadis yang ditakrijkan oleh Imam ahmad, Al-Hakim dan Abu Daud yang berbunyi :
“Rasulullah SAW mengangkat tangan sejajar dengan kedua pundak beliau.”

2.1.2. Hadits Ahad
Hadits Ahad adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu, dua, atau sedikit orang yang tidak mencapai derajat masyhur, apalagi mutawatir. Keterikatan manusia terhadap substansi hadits ini sangat dipengaruhi oleh kualitas periwayatannya dan kualitas kesinambungan sanadnya 14.

Imam Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad asy- Syaukani menyatakan bahwa kabar wahid atau hadits ahada barau dapat diterima jika sumbernya memenuhi lima syarat sebagai berikut 15:
1. Sumbernya harus seorang mukallaf, yaitu orang yang telah kena kewajiban melaksanakan perintah agama dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu ucapan anak dibawah umur tidak dapat diterima.
2. Sumbernya harus beragama Islam. Konsekuensinya, tidak dapat diterima khabar atau cerita dari orang kafir.
3. Nara sumber harus memiliki integritas moral pribadi yang menunjukkan ktakwaan dan kewibawaan diri (muru’ah) sehingga timbul kepercayaan orang lain kepadanya, termasuk dalam hal ini meninggalkan dosa-dosa kecil. Atas dasar ini orang fasiq secara otomatis tidak mempunyai adalah dan ucapan mereka ditolak.
4. Nara sumber harus memiliki kecermatan dan ketelitian, tidak sembrono dan asal jadi.
5. Nara sumber diharuskan jujur dan terus terang, tidak menyembunyikan sumber rujukan dengan cara apa pun, sengaja maupun tidak sengaja.
Di kalangan para ulama ahli hadits terjadi perbedaan pendapat mengenai kedudukan hadits ahad untuk digunakan sebagai landasan hukum. Sebagian ulama ahli hadits berkeyakinan bahwa hadits ahad tidak bisa dijadikan landasan hukum untuk masalah aqidah. Sebab, menurut mereka hadits ahad bukanlah qat’i as-tsubut (pasti ketetapannya). Namun menurut para ahli hadits yang lain dan mayoritas ulama, bahwa hadits ahad wajib diamalkan jika telah memenuhi syarat kesahihan hadits yang telah disepakati.

Hadits ahad dibagi menjadi tiga macam, yaitu hadits masyhur, hadits aziz, dan hadits garib.

Hadits Aziz, bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan) 16.
Hadits Mashur, bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir.
Hadits Gharib, bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur, meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur).
Hadits Garib juga biasa disebut hadits fardun yang artinya sendirian. Ibnu Hajar menganggap bahwa antara garib dan fardun adalah sinonim, baik secara istilah, tetapi kebanyakan para ahli hadits membedakan antara garib dan fardun, yakni istilah fardun merujuk kepada garib mutlak, sedangkan istilah garib dipakai pada garib nisbi. Hal ini sesuai dengan pengklasifikasian hadits garib yang memang menjadi dua bagian, yaitu:
 Hadits Garib Mutlak (fardun)
Hadits garib mutlak yaitu hadits yang diriwayatkan oleh satu rowi secara sendirian. Kesendirian rowi itu terdapat pada generasi tabi’in atau pada generasi setelah tabi’in, dan bisa juga terjadi pada setiap tingkatan sanadnya.
 Hadits Garib Nisbi
Yang termasuk sebagai hadits garib nisbi yaitu rowi hadits tersebut sendirian dalam hal sifat ataupun keadaan tertentu. Kesendirian dalam hal sifat atau keadaan rawi mempunyai tiga kemungkinan yaitu, sendirian dalam hal keadilan dan kedabitan, sendirian dalam hal tempat tinggal, sendirian dalam hal rawi 17.

2.2 Klasikfikasi Hadits Berdasarkan Diterima dan Ditolaknya (Kualitas)
Kategorisasi tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih, hasan, da’if dan maudu’.
1. Hadits Shahih, yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Sanadnya bersambung; Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah(kehormatan)-nya, dan kuat ingatannya; Haditsnya musnad, maksudnya hadits tersebut disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW; Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yang mencacatkan hadits (tidak ada ‘illah).
2. Hadits Hasan, bila hadits yang tersebut sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya, serta matannya tidak syadz serta cacat.
3. Hadits Dhaif (lemah), ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal, mu’allaq, mudallas, munqati’ atau mu’dal) dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya, mengandung kejanggalan atau cacat.
4. Hadits Maudu’, bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta.

2.3 Klasifikasi Hadits Dari Segi Kedudukan Dalam Hujjah
2.3.1 Hadits Maqbul
Maqbul menurut bahasa berarti yang diambil; yang diterima; yang dibenarkan. Sedangkan menurut urf Muhaditsin. Hadits Maqbul ialah hadits yang menunjuki suatu keterangan bahwa Nabi Muhammad SAW menyabdakannya.
Jumhur Ulama berpendapat bahwa hadits maqbul ini wajib diterima. Sedangkan yang termasuk dalam kategori hadits maqbul adalah :
 Hadits sahih, baik yang lizatihu maupun yang ligairihi.
 Hadits hasan, baik yang lizatihi maupun yang ligairihi.
Apabila ditinjau dari segi kemakmurannya, maka hadits maqbul dapat dibagi menjadi 2 yakni hadits maqbulun bihi dan hadits gairu ma’mulin bihi.
2.3.2 Hadits Mardud
Mardud menurut bahasa berarti yang ditolak; yang tidak diterima. Sedangkan menurut urf Muhaditsin, Hadits Mardud ialah hadits yang tidak menunjuki keterangan yang kuat akan adanya dan tidak menunjuki keterangan yang kuat atas ketidakadaannya, tetapi adanya dengan ketidakadaannya bersamaan. Maka, Jumhur Ulama mewajibkan untuk menerima hadits – hadits maqbul, dan sebaliknya setiap hadits yang mardud tidak boleh diterima dan tidak boleh diamalkan (harus ditolak). Jadi, hadits mardud adalah semua hadits yang telah dihukumi dhaif.

2.4 Klasifikasi Hadits Dari Segi Perkembangan Sanadnya
2.4.1 Hadits Muttasil
Hadits Muttasil adalah hadits yang didengar oleh masing – masing rawinya dari rawi yang di atasnya sampai kepada ujung sanadnya, baik hadits marfu’ maupun hadits mauquf.

2.4.2 Hadits Munqati’
Hadits Munqati’ adalah setiap hadits yang tidak bersambung sanadnya, baik yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW maupun disandarkan kepada yang lain 18.

CATATAN KAKI

1 Najib Kusnanto. 2006. Qur’an Hadits Madrasah Aliyah. Sragen : Akik Pustaka, hal 27.
2 http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/4/1/pustaka-99.html
3 Prof. DR. Muh. Zuhri. Hadits Nabi : Telaah Historis dan Metodologis. Cetakan II. (Tiara Wacana, Yogyakarta, 2003) Hal. 83.
4 Nicolas P. Aghnides. Pengantar Ilmu Hukum Islam. Cetakan II. (AB Sitti Sjamsijah, Surakarta, 1968). Hal. 25.
5 Nicolas P. Aghnides. Ibid. Hal. 27.
6 H. Soekama Karya. Opcit. Hal. 93.
7 http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/4/1/pustaka-99.html
8 Dr. Syamsuddin Arif. Prinsip-prinsip Dasar Epistemologi Islam. Dalam Jurnal ISLAMIA Th. II No. 5. Epistemologi Islam dan Problem Muslim Kontemporer. Hal. 31.
9 Drs. Muhammad Ahmad. 1998. Ulumul Hadits. Bandung : Pustaka Setia, hal 67.
10 Ibid., hal 67.
11 http://wikipedia.id.com
12 http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/4/1/pustaka-99.html
13 Prof. DR. Muh. Zuhri. Opcit. Hal. 84-85.
14 Prof. DR. Muh. Zuhri. Opcit. Hal. 86.
15 Dr. Syamsuddin Arif. Prinsip-prinsip Dasar Epistemologi Islam. Dalam Jurnal ISLAMIA Th. II No. 5. Epistemologi Islam dan Problem Muslim Kontemporer. Hal. 32.
16 http://wikipedia.id.com
17 Najib Kusnanto. Opcit. Hal. , 47.
18 Drs. Muhammad Ahmad. Opcit., Hal. 82-85.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kusnanto, Najib (2006). Qur’an Hadits Madrasah Aliyah. Sragen : AkikPustaka.
2. Zuhri Muh (2003). Hadits Nabi : Telaah Historis dan Metodologis. Yogyakarta : Tiara Wacana.
3. Aghnides, Nicolas (1968). Pengantar Ilmu Hukum Islam. Surakarta.
4. Ahmad, Muhammad (1998). Ulumul Hadits. Bandung : Pustaka Setia.
5. Juanda, Asep (2007). Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung : Pustaka Setia.